Dapur MBG Pelalawan Dihentikan Mendadak, 47 Relawan Terkatung dan 3.000 Siswa dan Anak Balita Belum Dapat Jaminan Makan

PELALAWAN (DUMAIPOSNEWS.COM) —- Polemik penyaluran program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat di Kabupaten Pelalawan. Operasional salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pangkalan Kerinci Kota, Kecamatan Pangkalan Kerinci dihentikan secara mendadak pada Kamis (3/9).

Dengan kejadian ini, meninggalkan 47 relawan tanpa pekerjaan dan membiarkan sekitar 3.000 siswa serta anak balita dalam ketidakpastian layanan gizi. Penghentian ini memicu kebingungan dan kekecewaan, terutama karena pihak mitra pengelola merasa tidak pernah menerima keputusan resmi yang menjadi dasar penghentian tersebut.
Demikian disampaikan pemilik SPPG Pangkalan Kerinci Kota dr Biran,yang terdampak kepada Dumaiposnews.com. Dikatakannya, bahwa pihaknya baru menerima surat dari KPPG pada malam hari sebelum eksekusi penghentian dilakukan. Ironisnya, surat tersebut masih berstatus “permohonan pemberhentian”, bukan surat keputusan (SK) final.

” Kami sudah menerima teguran terkait fasilitas dan kami sudah menjawab atau membalas dengan siap memperbaiki dalam waktu 30 hari. Tapi kenapa kegiatan dimasak langsung dihentikan sebelum ada kejelasan hukum,”terangnya.
dr Biran juga mengatakan, bahwa mitranya tidak anti evaluasi. Sebaliknya, pihaknya berkomitmen penuh mendukung program pemerintah. Namun, prosedur administrasi yang dianggap tidak transparan inilah yang menjadi ganjalan utama.

“Kalau ada kekurangan, kami siap lengkapi. Namun, menurutnya, yang dipersoalkan adalah penghentian kegiatan sebelum adanya kejelasan mengenai keputusan dan dasar pemberhentian. Dengan penghentian operasional tersebut berdampak langsung terhadap 47 relawan yang bekerja di dapur MBG.
Dirinya meminta agar persoalan yang terjadi tidak berujung pada intimidasi terhadap para relawan. Ia berharap komunikasi antara pihak terkait dilakukan secara persuasif dan terbuka.

” Persoalan tersebut bukan hanya menyangkut pihak mitra, tetapi juga keberlangsungan pekerjaan puluhan relawan serta pelayanan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah dan balita penerima manfaat,”jelasnya.
Sementara itu, ketika ditanyakan kepada kepala dapur SPPG Pangkalan Kerinci Kota terkait penghentian proses memasak tersebut., Rassy tidak bersedia memberikan keterangan maupun diwawancarai mengenai persoalan tersebut.

Hal senada ditanyakan kepada Koordinator Kecamatan (Korcam) SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia) atau kepala dapur Pangkalan Kerinci Sabar mengenai nasib sekitar 3.000 siswa penerima manfaat MBG, dirinya mengatakan persoalan tersebut berada di luar kewenangannya.

“Itu di luar kuasa saya, Pak, karena saya hanya sebagai Korcab,” katanya.
Saat ditanya mengenai penghentian kegiatan MBG yang terjadi pada siang hari, Sabar mengaku belum mengetahui secara pasti alasan penghentian tersebut.

“Itu di luar kendali saya. Saya kurang paham.Sejauh ini yang saya ketahui, hanya satu dapur yang mengalami penghentian operasional”tegasnya.
Terkait dugaan adanya konflik internal yang menjadi penyebab penghentian, Sabar juga mengaku tidak mengetahui persoalan tersebut. Sedangkan mengenai kepastian layanan MBG bagi siswa dan penerima manfaat lainnya, termasuk anak balita, Sabar mengatakan pihaknya masih menunggu arahan lebih lanjut

“Saya tidak paham. Kita kurang tahu. Kita masih menunggu,” jawabnya.
.Sabar mrnambahkan, Kalau mau lebih jelas permasalahan ini, langsung aja konfirmasi KPPG Pekanbaru: Wilayah kerja mencakup Provinsi Riau, Kepulauan Riau, dan Sumatera Barat yang dipimpin oleh Dr. Syartiwidya STP MSi. Namun, hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh penjelasan lebih lanjut mengenai kepastian kelanjutan operasional dapur maupun layanan MBG bagi sekitar 3.000 siswa dan penerima manfaat balita.(naz)