Jelang Aksi 27 Agustus, Waspadai Rumor Ancaman hingga Penumpang Gelap

JAKARTA (DUMAIPOSNEWS)-Institusi Polri merespons secara normatif rencana aksi demonstrasi besar yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (27/8) besok. Kepolisian memastikan kondisi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) masih berada dalam situasi kondusif dan terkendali, meski berbagai rumor mengenai kemungkinan terjadinya kericuhan mulai beredar di ruang publik.

Analis politik dan isu intelijen Boni Hargens menilai, munculnya rumor terkait potensi kekacauan merupakan bagian dari dinamika informasi di ruang publik. Menurutnya, kabar semacam itu tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai ancaman nyata, tetapi tetap perlu disikapi secara proporsional dan terukur.

“Polri bersama TNI dan BIN tentunya sudah memiliki strategi kolaborasi yang efektif untuk menjaga kondisi tetap aman dalam situasi kaotik apa pun yang mungkin terjadi. Apalagi, saya percaya betul dengan kinerja Pak Kapolri yang sudah terbukti selama ini sukses menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dalam beragam gejolak yang terjadi sejak 2024,” kata Bonis Hargens kepada wartawan, Rabu (26/8).

Boni menilai aparat keamanan telah memiliki kesiapan dan pola koordinasi untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang muncul selama berlangsungnya aksi. Kendati demikian, ia mengingatkan agar kondisi yang relatif aman tidak membuat kewaspadaan menurun.

Waspadai teori “Angsa Hitam”

Boni juga menggunakan pendekatan Black Swan Theory atau Teori Angsa Hitam untuk menggambarkan kemungkinan munculnya peristiwa yang sulit diprediksi dalam situasi keamanan.

Menurut dia, teori tersebut menekankan adanya kemungkinan kejadian yang sebelumnya tidak diperkirakan, tetapi memiliki dampak besar. Karena itu, setiap perencanaan keamanan perlu mempertimbangkan skenario yang tidak biasa sekalipun.

Peristiwa yang tidak memiliki preseden atau tanda-tanda kuat sebelumnya tetap berpotensi terjadi. Dalam konteks demonstrasi berskala besar, menurut Boni, prinsip tersebut perlu menjadi bagian dari pertimbangan aparat keamanan meski situasi sebelum aksi terlihat normal.

Keberhasilan menjaga keamanan, lanjut dia, juga tidak boleh membuat aparat lengah. Perencanaan menghadapi skenario terburuk (worst-case scenario planning) serta kemampuan merespons perubahan situasi secara cepat menjadi bagian penting dalam pengamanan demonstrasi.

Boni mengimbau masyarakat, media, maupun para pengambil kebijakan agar tidak berlebihan dalam menyikapi isu mengenai potensi gangguan keamanan. Ancaman tidak boleh diremehkan, tetapi kepanikan akibat informasi yang belum terverifikasi juga perlu dihindari.

“Tentu saja kita tidak mengharapkan hal buruk terjadi, namun logika keamanan harus selalu melihat adanya peluang munculnya angsa hitam dalam setiap peluang ancaman,” ujarnya.

Tiga faktor risiko demonstrasi

Boni turut menguraikan tiga faktor yang menurutnya perlu mendapat perhatian dalam mengantisipasi potensi perubahan situasi selama demonstrasi.

Pertama adalah rumor. Informasi yang belum terverifikasi, terutama yang menyebar cepat melalui media sosial, dapat memengaruhi persepsi publik terhadap tingkat ancaman. Jika tidak disikapi secara tepat, informasi semacam itu berpotensi memicu reaksi berantai di tengah masyarakat maupun peserta aksi.

Kedua, faktor ketakutan masyarakat. Rasa takut yang berkembang secara luas dapat memengaruhi perilaku kolektif. Dalam kondisi tertentu, kepanikan dapat memperbesar eskalasi di lapangan meski tidak terdapat provokasi yang signifikan.

Ketiga, keberadaan free-riders atau penumpang gelap. Mereka merupakan pihak yang memanfaatkan momentum demonstrasi untuk kepentingan di luar agenda resmi pengunjuk rasa.

Menurut Boni, kelompok tersebut menjadi salah satu faktor yang sulit diprediksi karena dapat memicu insiden yang kemudian berdampak terhadap keseluruhan aksi.

Karena itu, ia menilai pengamanan aksi 27 Agustus tidak cukup hanya mengandalkan kondisi yang terlihat kondusif. Kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk skenario yang tidak terduga, tetap diperlukan agar demonstrasi dapat berlangsung aman dan tertib.

“Demonstrasi itu sendiri bisa berjalan secara normatif, namun kombinasi rumor, ketakutan masyarakat, dan kehadiran penumpang gelap dapat mengubah situasi menjadi ancaman nyata bagi keamanan nasional,” pungkasnya.(jawapos)