Dugaan Ada Asap Keluar Bukan dari Cerobong Utama, Hanya Uap Steam

BANGKINANG (DUMAIPOSNEWS)-Kata pepatah orang tua-tua, “Tak ada gading yang tak retak”. Itulah spirit yang diwariskan kepada generasi ke generasi untuk berpikir, bertindak dan mengambil keputusan setelah mempertimbangkannya dengan matang, dalam segala hal. Termasuk dalam bekerja dan menyelamatkan dapur masyarkat tetap mengepul.

Hal ini disampaikan Humas PT Swastisiddhi Amagra, Bayu Gucita Alam saat dimintai keterangan oleh wartawan, Jumat (17/4/2026) lalu. Dikatakannya, perusahaan yang bergerak dibidang industri pengolahan kelapa sawit yang terletak di Desa Bina Baru, Kecamatan Kampar Kiri Tengah, Kabupaten Kampar, Riau itu sempat didatangi beberapa pihak, menanyakan berbagai hal. Salahsatunya, menyoal pencemaran udara dari cerobong asap produksi.

“Memang ada beberapa pihak yang menanyakan soal asap yang mereka duga telah mencemarkan udara disekitar pabrik. Kami maklum atas ketidaktahuan mereka dan kami ingin memberi penjelasan untuk itu,” ungkap Bayu.

Dijelaskannya, dugaan pihak yang mengatakan, mengapa ada asap yang keluar bukan dari cerobong utama. Hal itu mereka duga akan mencemari lingkungan dan semacamnya. Maka pihak perusahaan dianggap perlu menjawabnya sebagai edukasi bagi masyarakat sekitar pabrik. Karena tidak ada yang perlu ditakutkan karena perusahaan memiliki sistem pengendalian emisi yang baik.

“Sebenarnya asap itu uap steam sisa proses pengolahan atau produksi di mesin decanter yang melakukan proses pengolahan sludge untuk menghasilkan solid,” ulasnya.

Mesin decanter itu sendiri sebenarnya untuk mesin penggerak bertenaga listrik sehingga tidak terdapat emisi gas buangnya. Jadi yang terlihat itu sebenarnya bukan asap, melainkan uap saja. Teknis kerjanya memang begitu dan tidak membahayakan bagi kehidupan masyarakat sekitar pabrik.

“Ada 142 karyawan yang menggantungkan kehidupannya di pabrik ini dan 95 persennya orang tempatan. Jadi naif rasanya jika hanya untuk meraup keuntungan, kami mengorbankan keluarga mereka,” tambah Bayu meyakinkan.

Lebih jauh dijelaskannya soal mengutip pepatah lama orang tua-tua, “Tak ada gading yang tak retak” merupakan pengingat bahwa pihak perusahaan senantiasa berhati-hati dalam produksinya. Tidak asal dan mempertimbangkan secara matang agar tak terjadi kesalahan, apalagi sampai berakibat fatal.

“Jika ada kesalahan kecil maupun besar, tentulah wajar selama perusahaan ini beroperasi. Namun pihak kami terus berbenah agar tidak mengulanginya kembali,” tegas Bayu.(ers)