DUMAI (DUMAIPOSNEWS)- Kilang Pertamina RU II Dumai menopang suplai BBM untuk lima provinsi. Namun usia tua dan ketergantungan pada TA dinilai tak lagi cukup tanpa revamp besar. Peran Kilang Pertamina RU II Dumai tidak bisa dipandang sebelah mata. Kilang ini menjadi salah satu tulang punggung suplai energi yang menopang kebutuhan BBM di lima provinsi: Riau, Sumatera Barat, Jambi, Kepulauan Riau, dan sebagian Sumatera Utara.
Namun di balik peran strategis tersebut, Agoes S. Alam mempertanyakan permasalahan krusial apakah kilang yang sudah sangat tua ini masih layak diandalkan hanya dengan perawatan berkala Turn Around (TA)?
Lebih lanjut Agoes mengatakan, “Turn Around (TA) Menjaga Operasi, Bukan Solusi Jangka Panjang,” tegas Agoes yang pernah melakukan aksi demo terkait usia kilang beberapa waktu lalu.
Agoes mengatakan, selama ini, Turn Around (TA) menjadi instrumen utama menjaga keandalan kilang. Namun pada aset yang telah beroperasi puluhan tahun, fungsi TA mulai bergeser dari preventive maintenance menjadi upaya mempertahankan kelayakan minimum.
Fakta di lapangan menunjukkan biaya TA cenderung meningkat kompleksitas kerusakan bertambah, efisiensi tidak banyak berubah. Dengan kata lain, Turn Around (TA) hanya menjaga agar kilang tetap berjalan—bukan menjadikannya lebih modern atau lebih kompetitif.
Risiko Berlapis: Teknis dan Sistemik
Agoes juga mengatakan, dalam kondisi ini, masalah di kilang bukan lagi isu internal perusahaan, melainkan isu ketahanan energi regional.
“Kami menolak program Turn Around (TA) karena menurut kami tidak sesuai dengan yang pernah kita demo sebelum ini. Kami menuntut agar Pertamina segera melakukan Revamp karena itu kebutuhan, Bukan Pilihan'” kata Agoes.
Program Refinery Development Master Plan (RDMP) telah lama disiapkan untuk modernisasi kilang-kilang tua, termasuk Dumai. Revamp mencakup: upgrade teknologi proses penggantian unit kritis peningkatan efisiensi dan kualitas produk digitalisasi sistem kontrol. Namun realisasinya masih menghadapi berbagai tantangan kebutuhan investasi besar skema kerja sama prioritas pembangunan, Padahal waktu terus berjalan.
Keberhasilan TA sering dijadikan indikator bahwa kilang masih dalam kondisi baik. Namun stabilitas jangka pendek tidak menjamin keberlanjutan. Ada perbedaan mendasar antara masih bisa beroperasi dan layak menopang kebutuhan energi jangka panjang.
Kilang Pertamina RU II Dumai saat ini menopang kebutuhan energi untuk lima provinsi—sebuah peran strategis yang tidak kecil. Justru karena itu, mempertahankannya hanya dengan Turn Around (TA) adalah pendekatan yang semakin berisiko.
Tanpa revamp biaya akan terus meningkat, risiko akan bertambah, daya saing akan menurun. Turn Around (TA) menjaga operasional hari ini. Namun untuk menjamin masa depan energi kawasan, revamp bukan lagi opsi—melainkan keharusan.(ers)






