MUNTAI BARAT (DUMAIPOSNEWS)- Masyarakat Bantan, Kabupaten Bengkalis khususnya Pulau Terubuk menggelar bersholawat dalam rangka memperingati Haul Sultan Abdul Jalil Rahmadsyah (Raja Kecik), Jumat (16/1/2026) malam.
Kegiatan dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dipusatkan di Pulau Terubuk dan berlangsung khidmat dengan dihadiri ratusan jamaah serta tokoh agama dan pemerintahan.
Sultan Abdul Jalil Rahmadsyah, yang lebih dikenal dengan sebutan Raja Kecik, merupakan pendiri Kerajaan Siak Sri Indrapura. Ia adalah putra Sultan Mahmud Syah II dari Johor dengan Encik Apong. Setelah Sultan Mahmud Syah II dibunuh, Encik Apong melarikan diri ke Jambi, sementara Raja Kecik kemudian dibesarkan di Pagaruyung, Minangkabau.
Dengan latar belakang sejarah Melayu yang kuat, Raja Kecik kembali ke Johor untuk menuntut hak atas takhta yang kala itu diduduki oleh Tengku Bendahara. Pada tahun 1723, ia mendirikan Kerajaan Siak Sri Indrapura di Buantan, Riau, sekaligus memindahkan pusat kekuasaan dari Johor ke wilayah tersebut.
Selama masa pemerintahannya dari tahun 1723 hingga 1746, Raja Kecik dikenal sebagai pemimpin yang tangguh. Ia memperluas wilayah kekuasaan, membangun pertahanan dan armada laut yang kuat, serta menguasai perdagangan timah di Pulau Bangka. Selain itu, ia juga berperan besar dalam pengembangan agama Islam dengan membangun masjid-masjid di berbagai wilayah kerajaannya.
Raja Kecik wafat pada tahun 1746 dan dimakamkan di Buantan. Kepemimpinan Kerajaan Siak kemudian dilanjutkan oleh putranya, Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzaffar Syah. Warisan kebesaran Kerajaan Siak menjadi bagian penting dari fondasi sejarah yang turut membentuk wilayah Provinsi Riau setelah Indonesia merdeka.
Penggagas acara sekaligus Bendahara Panitia, Solihin, menyampaikan bahwa peringatan haul ini merupakan bentuk penghormatan dan tanggung jawab generasi penerus Riau untuk mengenang jasa pendiri kerajaan.
“Sebagai generasi penerus yang tinggal di Provinsi Riau, sudah menjadi kewajiban kita untuk mengenang Sultan Abdul Jalil Rahmadsyah setiap tahun. Selama ini, sosok beliau seolah terlupakan, padahal jasanya sangat besar bagi sejarah dan peradaban Melayu,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang menyatakan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah. Menurutnya, tanpa para pelaku sejarah, generasi hari ini tidak akan berada pada posisi sekarang.
Acara tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Syeh Ahmad Rauhi, keturunan ke-28 Sulthonul Aulia Syeh Abdul Qadir Al-Jailani beserta rombongan.
Turut hadir para Rais dan pengurus Jamiyyah Ahlittoriqoh Al Muktabaroh An-Nahdiyyah Kabupaten Bengkalis, pimpinan Pondok Pesantren Nurussalam, Darussalam, dan Popshol Al Burdah Senggoro, serta pimpinan Majelis Ilmu dan Alam Al Burdah Baa Khaalis.
Selain itu, hadir pula Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Provinsi Riau, Staf Ahli Bupati bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Kapolres Bengkalis dan Dandim 0303 Bengkalis yang diwakili, Danlanal Kabupaten Bengkalis, GP Ansor dan Muslimat Kabupaten Bengkalis, Camat Kecamatan Bantan, Penjabat Kepala Desa Muntai Barat beserta perangkat desa, serta para kiai, habaib, tokoh masyarakat, dan para sesepuh setempat.
Kegiatan Pulau Terubuk Bersholawat ini diselenggarakan oleh Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) Kabupaten Bengkalis bekerja sama dengan Koperasi Ikatan Pemuda Peduli Lingkungan, sebagai upaya melestarikan nilai sejarah, keislaman, dan kebudayaan Melayu di Bumi Lancang Kuning.(rio)






