Melontar Jumroh Suhu di Mina Capai 41 Derajat Celcius, Jamaah Haji Riau Tetap Semangat

PEKANBARU (DUMAIPOSNEWS) – Jemaah haji (JH) Riau menghadapi cuaca ekstrem saat menjalani ibadah wajib dalam rangkaian haji yakni melontar jumrah di Mina. Kamis (28/5), suhu mencapai 41 derajat Celcius (°C). Namun, di tengah panas gurun dan kepadatan Mina, para jemaah tetap berusaha menjaga semangat beribadah.

“Cuaca memang sangat panas, tetapi jemaah tetap antusias dan saling membantu. Kami terus mengi­ngatkan agar menjaga kesehatan, minum yang cukup, dan mengikuti arahan petugas,” ujar Ketua Kloter BTH 3 Faulina Riska yang berada di Mina saat dihubungi Riau Pos, kemarin.

Prosesi lontar jumrah dilakukan berbarengan dengan mabit di Mina maupun tanazul yang dilakukan jemaah haji. Waktunya dimulai dari hari nahar atau Iduladha pada 10 Zulhijah (27 Mei) hingga 12 Zulhijah (29 Mei) bagi mereka yang mengambil nafar awal. Atau hingga 13 Zulhijah (30 Mei) bagi jemaah haji yang mengambil nafar tsani.

Bagi jemaah haji yang mengambil nafar awal, ia harus meninggalkan Mina sebelum matahari terbenam. Bila masih berada di Mina atau area Jamarat selepas matahari terbenam, maka ia wajib mengambil nafar tsani. Yakni meneruskan lontar jumrah dengan cara yang sama pada 13 Zulhijah sebelum terbenam matahari.

Faulina Riska mengatakan, seluruh jemaah menjalani prosesi lontar jumrah aqabah dengan tertib sesuai pengaturan yang telah ditetapkan Pemerintah Arab Saudi. “Semalam jemaah melaksanakan lontar jumrah aqabah setelah bergerak dari Arafah menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengambil kerikil. Alhamdulillah semua berjalan lancar,” ujarnya.

Di tengah suhu panas yang mencapai lebih dari 41 derajat Celsius, Pemerintah Arab Saudi menerapkan pembatasan waktu pelaksanaan lontar jumrah. Jemaah tidak diperkenankan melontar pada tengah hari demi menghindari risiko kelelahan dan cuaca ekstrem.

Karena itu, jemaah Kloter BTH 3 dijadwalkan kembali melaksanakan lontar jumrah hari tasyrik pada sore hingga malam hari sekaligus mabit kembali di Mina. Faulina menjelaskan, jemaah dibagi dalam dua skema pelayanan.

Ini dilakukan agar seluruh rangkaian ibadah tetap aman dan nyaman, terutama bagi jemaah lanjut usia (lansia). “Untuk jemaah lansia menggunakan skema murur. Mereka cukup mabit di tenda Mina dan lontar jumrahnya dibadalkan oleh petugas atau pembadal,” jelasnya.

Sementara jemaah dengan kondisi fisik yang lebih kuat mengikuti skema tanazul Mina. Mereka kembali ke hotel usai pelaksanaan ibadah tertentu dan tidak seluruh waktu bermalam di tenda Mina.(rio)