Kisah Inspiratif Syahrial Okzani, Menjaga Keselamatan Merawat Kehidupan 

Dari Inspector dan Praktisi Keselamatan, hingga kini dirinya berhasil memimpin Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Refinery Unit (RU) Dumai.  

Ada pekerjaan yang keberhasilannya justru diukur dari sesuatu yang tidak terjadi yakni tidak ada kecelakaan kerja, tidak ada kebakaran, tidak ada kerusakan asset,  tidak ada pencemaran lingkungan, tidak ada gangguan keamanan dan tidak ada gangguan yang dinilai serius terhadap operasi kilang. 

Di situlah dunia Keselamatan dan Kesehatan Kerja atau Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) menemukan maknanya. 

Bagi pria bernama lengkap Ir Syahrial Okzani, ST, MT, MPr, IPU, ASEAN Eng  menyebut bagian HSSE bukan sekadar fungsi organisasi, namun ini adalah sebuah perjalanan profesional yang dibangun selama lebih dari dua dekade melalui pengalaman, pendidikan, sertifikasi, penugasan, dan keterlibatan langsung dalam berbagai persoalan keselamatan di industri energi.

Saat ini Syahrial Okzani dipercaya sebagai Manager HSSE RU Dumai. Posisi tersebut merupakan salah satu tahapan panjang perjalanan kariernya di lingkungan Pertamina.

Perjalanan panjang itu dia mulai dari bergabung dengan Pertamina pada tahun 2008 di UP II Dumai dan kemudian menjalani berbagai posisi, mulai dari Asisten Kesisteman, System and Regulation PSM Supervisor, Safety Officer HSC, hingga Regulation and PSM Senior Supervisor.

Perjalanan itu membawanya ke RU III Plaju, Kantor Pusat, RDMP RU III, Project Region Sumatera, hingga akhirnya kembali ke RU II Dumai sebagai Manager HSSE sejak Juli 2024.

Namun, bagi Syahrial Okzani, jabatan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru di balik jabatan itu terdapat tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni memastikan setiap orang yang bekerja dapat kembali kepada keluarganya dengan selamat.

K3 Bukan Sekadar Prosedur 

Syahrial Okzani melihat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai bidang yang terus bergerak. Industri minyak dan gas (Migas) memiliki tingkat risiko tinggi sehingga pendekatan keselamatan tidak boleh berhenti pada prosedur yang bersifat rutin.

“Kalau secara umum terkait dengan K3 itu improvement. Harus improvement terus. Tantangan di dunia industri migas itu high-grade, sehingga kita harus menyesuaikannya dengan proses bisnis pekerjaan kita,” katanya.

Karena itu, ia mendorong inovasi sebagai bagian dari budaya keselamatan. Salah satunya berkaitan dengan Daily Check Up (DCU) online, Vending Machine Alat Pelindung Diri (APD) dan Bersama IT mengembangkan CCTV IA sebagai buddy sistem pengawasan.

Menurut Syahrial Okzani, Vending Machine dapat memenuhi kebutuhan APD Consumable secara cepat sekaligus terpantau. Karena itu, inovasi diperlukan agar pekerja dapat memenuhi kebutuhan APD secara praktis dan sistem dapat segera merespons.

“Memang kami mendorong inovasi-inovasi berkelanjutan terkait dengan HSSE. Itu salah satu contohnya,” ujarnya.

Pandangan tersebut lahir dari pengalaman panjang Syahrial Okzani dalam bidang HSSE. Jauh sebelum menjadi manager, ia telah mengikuti berbagai pelatihan dan sertifikasi, mulai dari Ahli K3 Umum, Pengawas Operasional, Fireman, Inspector Scaffolder, Inspector Pesawat Angkat Angkut, Petugas Proteksi Radiasi, Ahli K3 Kimia, Ahli K3 Migas, Insinyur Profesional Utama, Project Manager, PFSO, hingga Asean Engineer dari AFEO.

Syahrial Okzani juga mengembangkan kompetensi dalam Process Safety Management, Incident Investigation, Safety Leadership, Asset Integrity Management dan berbagai Sistem Manajemen Keselamatan.

Mindset tersebut juga lahir dari berbagai pengalaman kerja sebelum bergabung di Pertamina yaitu bidang Akademik sebagai Asisten Dosen dan bekerja diberbagai  Perusahaan  sebagai Inspector di Pengeboran Migas, bekerja di Perusahaan Enginering Procurement & Construction (EPC), Perusahaan Pertambangan Batubara dan selanjutnya berkarir di Pertamina. Perjalanan Panjang dari Dunia Pendidikan dan berbagai Perusahaan menempa Syahrial Okzani.

Tantangan Terbesarnya Justru Manusia

Latar belakang Syahrial Okzani sebenarnya adalah Teknik. Ia menempuh pendidikan S1 Teknik Pertambangan di Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.

Kemudian, melanjutkan S2 Teknik Kimia dengan konsentrasi Teknologi Lingkungan dan menyelesaikan Program Profesi Insinyur di Universitas Hasanuddin, masing-masing dengan capaian akademik yang sangat baik IPK 4.00

Tetapi pengalaman membuatnya memahami bahwa keselamatan tidak cukup dibangun hanya melalui kemampuan teknis.

“HSSE ini multi disiplin ilmu. Artinya alat, system dan manusianya. Saya melihatnya secara komprehensif,” tuturnya.

Mesin dan proses, kata Syahrial Okzani, dapat dipahami melalui sistem kerjanya. Manusia berbeda. Ada aspek komunikasi, perilaku, budaya, kepemimpinan, hingga kesadaran yang harus dibangun.

“Kalau dengan mesin dan proses kita pelajari Refinery Process, Mechanical Integrity, Instrumen Control,  Process Safety dan Asset Integrity Management (PSAIM), Barrier Management, Major Accident Hazard (MAH), Fire & Emergency Response dan lain sebagainya.  Tapi kalau manusia, harus bisa kita merubah budaya dan mindset serta dikomunikasikan secara bertahap, bertingkat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Inilah salah satu alasan mengapa Syahrial Okzani memandang HSSE bukan semata-mata pekerjaan administratif. Ia adalah pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan Manusia dan Proses Bisnis suatu Perusahaan.

Dalam menjalankan tugas, ia pun mengakui bahwa rasa khawatir merupakan sesuatu yang manusiawi.

“Kalau kita selaku manusia, pasti merasa was-was. Saya nggak mau bilang bahwa saya tidak was-was. Enggak juga. Cuma kita harus me-manage rasa was-wasnya itu,” ujarnya.

Rasa was-was tersebut tidak boleh berubah menjadi ketakutan yang melumpuhkan. Sebaliknya, harus menjadi kewaspadaan yang melahirkan disiplin, pemeriksaan, komunikasi, dan pengendalian risiko.

“Kita harus berdoa. Jangan lupa berdoa,” ucapnya.

Menurut Syahrial Okzani, ikhtiar melalui kompetensi dan sistem keselamatan perlu berjalan bersama dengan doa dan keyakinan kepada Tuhan.

Cita-Cita yang Bernama Pertamina 

Menariknya, perjalanan panjang Syahrial Okzani di Pertamina berawal dari sebuah cita-cita yang sederhana. “Saya dulu cita-citanya ingin bekerja di Pertamina aja,” ungkapnya.

Ketertarikan itu muncul karena Pertamina dipandangnya sebagai perusahaan negara yang memiliki peran strategis dalam menyediakan energi bagi Indonesia.

Cita-cita tersebut akhirnya menjadi kenyataan. Pada Juli 2008, ia pun memulai perjalanan di UP II Dumai.

Syahrial Okzani pernah terlibat dalam implementasi Contractor Safety Management System (CSMS), Sistem Manajemen Terintegrasi lingkungan (ISO Series) , Pre Start Up Review., Process Safety Management, Major Emergency Drill, Risk Register, HAZOPS, audit SUPREME, BCMS  hingga investigasi kecelakaan. Ia juga dipercaya dalam berbagai tim tingkat korporat dan lintas unit Pertamina.

Pengalaman tersebut membuat cakrawala HSSE-nya semakin luas. Keselamatan tidak lagi dilihat sebagai satu fungsi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian integral dari keberlangsungan operasi.

Kepemimpinan yang Ditempa Pengalaman 

Kematangan profesional Syahrial juga tercermin dari sejumlah penghargaan yang diterimanya.

Di antaranya Quality and Active Award pada 2013, penghargaan optimalisasi kapasitas dan peningkatan gross margin di RU III pada 2016, dan SWAT Terbaik Level Section Head pada 2017. Assessor ISRS Korporat, penghargaan Pekerjaan Terbaik, dan penghargaan Relawan Pertamina Energi Negeri. Puncaknya antara lain The Best Health and Safety Leadership of Year 2024 dari ISEA.

Penghargaan itu menarik karena kepemimpinan keselamatan tidak hanya berbicara tentang kemampuan memahami regulasi. Ia berbicara mengenai kemampuan menggerakkan manusia untuk menjadikan keselamatan sebagai nilai bersama.

Syahrial juga terlibat aktif diberbagai Organisasi Profesi seperti World Safety Organization (WSO), Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan menjadi Narasumber berbagai Seminar yang diadakan oleh Universitas dan Lembaga Pelatihan.

Dari Kilang ke Kampus 

Di tengah kesibukannya sebagai praktisi, Syahrial Okzani juga memilih berbagi pengetahuan melalui dunia akademik.

Ia pernah menjadi asisten dosen di Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas akademiknya kembali berkembang.

Syahrial Okzani menjadi Dosen Praktisi Politeknik Akamigas Palembang pada 2023, Dosen Praktisi Fakultas Teknik Universitas Riau pada 2026, dan Dosen Industri Program Profesi Insinyur Universitas Riau pada September 2026.

Ia juga aktif menjadi pembicara dan narasumber berbagai forum. Topiknya tidak hanya K3, tetapi juga process safety, manajemen risiko, ESG, dan keinsinyuran

Bagi Syahrial Okzani, berbagi ilmu adalah bentuk lain dari pengabdian. “Saya lebih senang bisa membagikan apa yang saya tahu, berbuat hal-hal yang baik, yang mungkin bisa menjadi manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Dengan pengalaman praktis di industri dan aktivitas akademik, ia berada di posisi yang memungkinkan pengetahuan tidak berhenti di ruang kerja.

Pengalaman lapangan dapat dibawa ke kampus, sementara gagasan akademik dapat dibawa kembali ke dunia industri.

Keluarga di Balik Perjalanan 

Di balik perjalanan profesional tersebut terdapat keluarga yang menjadi bagian penting dari kehidupannya.

Dalam wawancara, pria berdarah Palembang itu mengakui bahwa dukungan keluarga, khususnya istri, menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menjalani karier. “Istri saya mengorbankan kariernya untuk mendampingi saya,” tuturnya.

Bagi seorang profesional yang bekerja di industri dengan tuntutan tinggi, keluarga bukan sekadar tempat pulang. Keluarga juga menjadi ruang untuk berbagi beban, mencari ketenangan, dan memperoleh perspektif ketika menghadapi persoalan pekerjaan.

Setelah Karier, Kembali kepada Kehidupan 

Syahrial Okzani juga telah memikirkan kehidupan setelah masa pengabdiannya di Pertamina. Dunia pendidikan merupakan salah satu ruang yang ingin terus dijalani. Selain itu, ia memiliki ketertarikan pada bidang pertanian.

Ketertarikan itu tidak datang tiba-tiba. Ia berasal dari lingkungan pedesaan dan memiliki kedekatan dengan dunia pertanian. Ia bahkan telah menjalankan usaha yang berkaitan dengan pertanian dan membayangkan bidang tersebut sebagai salah satu aktivitas setelah purna tugas.

“Kalaupun purna tugas nanti akan menggeluti dunia pertanian,” katanya.

Ada sesuatu yang menarik dari pilihan tersebut. Setelah bertahuntahun berkutat dengan pengeboran, EPC, pertambangan, kilang, proses, sistem keselamatan, risiko dan teknologi, ia justru membayangkan masa depan yang lebih dekat dengan tanah dan kehidupan.

Menjalani, Berbuat Baik dan Bersyukur

Pada akhirnya, Syahrial Okzani tidak menempatkan karier sebagai perlombaan mengejar jabatan.

“Menjalani karier itu ya kita jalani saja. Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan yang terbaik,” ujarnya.

Ia percaya bahwa manusia harus berusaha, tetapi hasil akhir tetap berada dalam ketentuan Allah SWT.

“Lebih bagus kita jalani saja seperti air mengalir. Bukan berarti kita berjalan apa adanya, tidak juga,” katanya.

“Saya yakin Allah SWT  itu sudah menentukan rezeki orang per orang masing-masing. Rezeki itu tidak akan tertukar. Jadi kita jalani saja dan kita harus bersyukur.”kisahnya.

Kalimat itu seperti merangkum perjalanan panjangnya. Dari Gelumbang menuju Palembang, Dari dunia akademik menuju industri.

Dari pertambangan dan proyek energi menuju Pertamina. Dari Dumai ke Plaju, kemudian ke Kantor Pusat, Project Region, dan kembali ke Dumai. Dari praktisi menjadi pemimpin HSSE sekaligus pengajar.

Semua perjalanan itu akhirnya bermuara pada satu prinsip sederhana yakni bekerja sebaik mungkin dan memberi manfaat sebanyak mungkin.

“Kalau terkait dengan dunia, mungkin kalau saya jalani apa adanya saja, yang terbaik, bisa bermanfaat bagi orang, itu saya sudah senang. Bisa membantu orang, saya sudah senang.” jelasnya.

Bagi Syahrial Okzani, menjaga keselamatan bukan hanya tentang memastikan sebuah pekerjaan selesai tanpa insiden. Lebih dari itu, keselamatan adalah cara menjaga manusia—agar setiap orang yang berangkat bekerja dapat kembali pulang, bertemu keluarga, dan melanjutkan kehidupannya.

Di situlah makna terdalam dari seorang penjaga keselamatan: bekerja dalam senyap, tetapi memastikan kehidupan terus berjalan.(*)

(Mochamad Ade Maulidin)