Penulis : SYARIFAH DIAN EKA SARI – Mundam
DI LAHAN terbatas di belakang kawasan Kilang Pertamina Dumai, sekelompok ibu rumah tangga di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, menanam sesuatu yang lebih dari sekadar sayuran. Mereka menumbuhkan harapan agar anak-anak di lingkungan pesisir dapat tumbuh lebih sehat dan memperoleh asupan gizi yang cukup.
Melalui kebun hidroponik, kelompok yang dikenal dengan nama Wanita Mundam Berseri itu membudidayakan pakcoy dan selada. Hasil panennya dijual kepada masyarakat, sebagian diputar kembali untuk kebutuhan kebun, dan sebagian lainnya dimanfaatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak yang membutuhkan perhatian khusus. Sayuran tersebut juga diolah menjadi jus dan puding untuk pemberian makanan tambahan. Dari kebun sederhana itu, para ibu berupaya menjadikan kegiatan ekonomi sebagai jalan untuk berbagi.
Berawal dari aktivitas kader Posyandu Sakinah, Wanita Mundam Berseri tumbuh menjadi penggerak kepedulian terhadap kesehatan ibu dan anak di kawasan pesisir. Perjalanan mereka mendapat dukungan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) II Dumai atau Kilang Pertamina Dumai melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Dukungan berupa pelatihan, bantuan instalasi hidroponik, hingga penyediaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) membantu kelompok mengembangkan kegiatan yang tidak hanya menghasilkan sayuran, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Eva Herawati, local hero yang mendampingi Wanita Mundam Berseri bersama ketuanya, Irma Suryanti, menceritakan bahwa kegiatan tersebut bermula dari aktivitas rutin para ibu di Posyandu Sakinah, Griya Pulai Sakinah, RT 06, Kelurahan Mundam. Pada 2023, sejumlah kader mengikuti pelatihan hidroponik dengan pendampingan kelompok Sehati dari Kelurahan Tanjung Palas, yang kini berkembang dengan nama Wirani Rejosari.
Pengetahuan yang diperoleh kemudian mereka terapkan di lingkungan sendiri. Pada 1 Januari 2024, Kelompok Tani Wanita Mundam Berseri resmi dibentuk dengan 14 anggota. Seiring waktu, jumlah anggota yang aktif dalam kelompok tersebut menjadi 10 orang. Mereka memanfaatkan lahan wakaf tempat berdirinya Posyandu Sakinah di Jalan Wan Zein, Blok Safa Marwa, RT 06, Kelurahan Mundam, untuk membangun kebun hidroponik.
Dua instalasi pertama merupakan bantuan CSR Kilang Pertamina Dumai. Setiap instalasi memiliki 150 lubang tanam sehingga tersedia total 300 lubang untuk membudidayakan pakcoy dan selada. Hasil panen kemudian dipasarkan kepada masyarakat.
Sebagian pendapatan digunakan kembali untuk membeli bibit, nutrisi tanaman, dan memenuhi kebutuhan operasional kebun. Sementara itu, sayuran dan produk olahannya dimanfaatkan untuk membantu anak-anak yang membutuhkan tambahan asupan gizi.
“Jadi, hasil sayuran pakcoy dan selada itu kami jual, lalu sebagian kami berikan untuk anak-anak yang kekurangan gizi. Kami juga membuat produk turunan seperti jus dan puding yang diberikan kepada anak-anak se-Kelurahan Mundam,” ujar Eva.
Kegiatan itu kemudian berkembang. Melalui bantuan dana CSR sebesar Rp40 juta dari Kilang Pertamina Dumai, kelompok tersebut menambah instalasi hidroponik dari dua menjadi empat unit.
“Alhamdulillah, berkat bantuan dana CSR dari Pertamina, sekarang kami memiliki empat instalasi yang sebelumnya hanya dua. Pihak perusahaan juga terus memantau perkembangan kegiatan kami. Manfaatnya dirasakan, terutama dalam membantu anak-anak kurang mampu di kawasan pesisir,” tuturnya.
Bagi Eva dan anggota kelompoknya, keberhasilan kebun tidak semata-mata diukur dari jumlah sayuran yang dipanen atau uang yang diperoleh. Ada kebutuhan anak-anak yang harus mereka dahulukan. Penanaman sayur hidroponik sangat mudah dibudidayakan dan sayuran hidroponik ini rasanya lebih renyah, enak, sehat dan lebih mudah dikonsumsi. Sambungnya, dengan tanaman hidroponik ini mereka mendapatkan peningkatan sumber daya manusia dengan belajar cara menanam tanaman sayur system hidroponik.
Dengan mengkonsumsi beragam sayur, tentunya dapat mencegah stunting di lingkungan keluarga, hingga akhirnya berdampak pada perekonomian kelompok juga ikut meningkat menjadi lebih baik.
‘’Kita sudah 30 kali panen dan hasilnya semua dijualkan kepada masyarakat. Penjualan tanaman sayuran hidroponik yang dihasilkan berupa pokcoy dan salada itu Alhamdulillah terjual habis. Nah, duit itulah yang kita putar kembali. Untuk anggota kita tidak ada mengambil dan memang mereka tidak ada honornya, kita semuanya sistem berbagi diberikan kepada anak-anak kurang mampu di kawasan pesisir. Dan kepada anak yang status gizinya di posyandu itu tidak baik seperti bawah garis merah dan stunting,’’ jelasnya.
Hasil Panen untuk Anak-Anak
Sejak mulai berproduksi, kebun hidroponik Wanita Mundam Berseri telah mengalami sekitar 30 kali panen. Pakcoy dan selada yang dihasilkan dipasarkan kepada masyarakat dan, menurut Eva, selama ini selalu habis terjual.
Pemasarannya dilakukan secara sederhana melalui status WhatsApp, Facebook, serta promosi dari mulut ke mulut. Pendapatan dari penjualan digunakan kembali untuk membeli bibit, nutrisi tanaman, dan memenuhi kebutuhan operasional. Sebagian hasil kebun juga diolah menjadi jus dan puding untuk mendukung pemberian makanan tambahan bagi anak-anak yang membutuhkan.
Di tengah kegiatan tersebut, para anggota tidak menerima honor tetap. Mereka bekerja secara sukarela dengan membagi waktu antara pekerjaan rumah tangga dan tanggung jawab merawat kebun.
“Untuk anggota, kami tidak mengambil honor. Semuanya menggunakan sistem berbagi, dengan mengutamakan anak-anak kurang mampu di kawasan pesisir, terutama yang status gizinya berada di bawah garis merah atau mengalami stunting,” jelas Eva.
Perawatan tanaman dilakukan secara bergantian sesuai jadwal piket. Tanaman hidroponik membutuhkan perhatian rutin, mulai dari memantau kondisi air hingga memastikan tingkat keasaman (pH) dan nutrisi tetap sesuai agar tanaman tumbuh optimal. Bagi para anggota, kegiatan ini sekaligus menjadi ruang belajar. Mereka memperoleh keterampilan dalam membudidayakan sayuran, mengelola hasil panen, dan memasarkan produk.
Namun, pendapatan dari kebun belum selalu memungkinkan mereka membagikan hasil kepada seluruh anggota. Kebutuhan anak-anak tetap menjadi prioritas.
“Kalau kebutuhan anak-anak sudah tercukupi, barulah kami bisa membagi hasil. Kalau belum, kami dahulukan anak-anak yang membutuhkan. Yang jelas, ketika panen berhasil, kami sangat menikmatinya,” kata Eva.
Pilihan itu memperlihatkan bagaimana kebun hidroponik menjadi lebih dari sekadar kegiatan produktif. Bagi kelompok ini, hasil panen juga menjadi sarana untuk menjangkau anak-anak yang memerlukan perhatian gizi.
PLTS Membantu Menekan Biaya Operasional
Dukungan Kilang Pertamina Dumai tidak berhenti pada pengembangan kebun hidroponik. Untuk menunjang keberlanjutan kegiatan, perusahaan juga menyediakan PLTS yang memasok energi bagi aktivitas kebun dan mendukung kebutuhan operasional Posko Gizi Pesisir.
Ternyata bukan hanya instalasi saja yang diberikan Pertamina, akan tetapi juga PLTS atau Pembangkit Listrik Tenaga Surya yang dipergunakan untuk kelangsungan penanaman hidroponik sehingga tidak memerlukan Listrik melainkan PLTS. Dengan adanya PLTS tersebut sangat membantu mereka dalam kegiatan budidaya hidroponik sebagai penguatan upaya pengentasan stunting anak-anak di Kelurahan Mundam.
Adanya PLTS ini sangat membantu menekan biaya listrik untuk kegiatan budidaya hidroponik. Dengan biaya operasional yang lebih efisien, kami bisa lebih fokus menjaga kualitas sayur yang hasil penjualannya untuk mendukung operasional posyandu. Disatu sisi, mereka juga jadi belajar penggunaan energi ramah lingkungan dan kini sudah bisa mengoperasikan PLTS secara mandiri.
PLTS berjenis hybrid off-grid tersebut memiliki kapasitas 4,4 kilowatt-peak (kWp), dilengkapi baterai berkapasitas 10 kWh, dan telah terpasang sejak Juli 2025 di Posko Gizi Pesisir, Kelurahan Mundam. Berdasarkan keterangan perusahaan, pemanfaatan energi surya itu mampu menghemat biaya listrik hingga sekitar Rp250 ribu per bulan.
Penghematan tersebut berarti bagi kelompok yang harus menjaga keberlangsungan kebun sekaligus mengalokasikan hasil penjualan untuk kegiatan sosial. Biaya operasional yang lebih ringan memberikan ruang bagi mereka untuk mempertahankan kegiatan budidaya dan membantu anak-anak yang membutuhkan.
Selain memperoleh manfaat ekonomi, para anggota juga belajar mengoperasikan PLTS secara mandiri. Mereka tidak hanya mengembangkan keterampilan bercocok tanam, tetapi juga mengenal pemanfaatan energi bersih untuk menunjang kegiatan sehari-hari.
“Semua ini sangat membantu kami. Pertamina memberikan pelatihan, bantuan instalasi, bibit, dan pupuk. Hasil panen kemudian kami jual dan sebagian diolah menjadi jus serta puding untuk anak-anak,” ungkap Eva.
Ia mengaku merasakan perubahan sejak kelompok tersebut mendapatkan pendampingan perusahaan. Menurutnya, perhatian terhadap masyarakat Mundam mendorong warga semakin bersemangat mengembangkan kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.
Selain Wanita Mundam Berseri, Kilang Pertamina Dumai juga membina kelompok Mundam Jaya yang mengembangkan budidaya ikan nila di kawasan pesisir. “Dulu kami merasa Kelurahan Mundam kurang mendapat perhatian, padahal wilayah ini berada di belakang kilang Pertamina. Sekarang kami merasakan manfaatnya. Ada kelompok ibu-ibu yang mengembangkan sayuran dan kelompok bapak-bapak yang mengelola ikan nila,” ujarnya.
Eva berharap pendampingan tersebut dapat terus berlanjut hingga kelompok mampu berdiri mandiri dan memberikan manfaat yang lebih luas.
Memperkuat Posko Gizi Pesisir
Pengembangan hidroponik dan dukungan PLTS di Mundam merupakan bagian dari upaya Kilang Pertamina Dumai memperkuat pemberdayaan masyarakat pesisir melalui program Posko Gizi Pesisir. Program ini berada dalam payung Serumpun Paman Bahari, singkatan dari Sinergi Ekologi untuk Masyarakat Pesisir Unggul, Pangan Mandiri dan Bahari Lestari.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit II Dumai, Tengku Muhammad Rum, menjelaskan bahwa penyediaan PLTS merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan komunitas yang terintegrasi dengan pemanfaatan energi bersih.
Menurutnya, inisiatif di Mundam terinspirasi dari pengelolaan Posyandu Sehati di Kelurahan Tanjung Palas yang sebelumnya juga memperoleh dukungan fasilitas energi surya. “Penyediaan PLTS ini merupakan bagian dari upaya Kilang Dumai mendorong peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, khususnya ibu dan anak, melalui pemberdayaan komunitas yang terintegrasi dengan pemanfaatan energi bersih dan berkelanjutan,” ujar Tengku Muhammad Rum.
PLTS di Mundam merupakan fasilitas keempat yang dipasang Kilang Dumai melalui sinergi dengan Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE). Sebelumnya, dua fasilitas dipasang di Kelurahan Tanjung Palas dan satu lainnya mendukung kelompok Mundam Jaya di Kelurahan Mundam.
Pemasangan PLTS di Mundam juga menjadi bagian dari implementasi Program Desa Energi Berdikari (DEB) 2025 yang diinisiasi PT Pertamina (Persero). Melalui program tersebut, perusahaan berupaya memperluas pemanfaatan energi terbarukan sekaligus mendukung kegiatan ekonomi dan sosial masyarakat.
Lanjutnya lagi bahwa program TJSL untuk kesehatan ibu dan anak ini merupakan bagian dari program Serumpun Paman Bahari, yakni Sinergi Ekologi untuk Masyarakat Pesisir Unggul, Pangan Mandiri dan Bahari Lestari. Berada di wilayah pesisir, Kilang Pertamina Dumai tidak hanya fokus kepada para nelayan saja, tapi juga keluarga nelayan.
‘’Para ibu rumah tangga kami berdayakan, karena melalui ibu diharapkan dapat melindungi keluarganya, sekaligus memberikan manfaat bagi posyandu dan pengentasan stunting. Karena di wilayah termasuk area yang berfokus pada pengentasan stunting di Kota Dumai,’’ imbuhnya.
Melalui sinergi dan kolaborasi yang kuat tersebut, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai berharap program pengentasan stunting yang dijalankan dapat memberikan dampak positif dan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus mendukung lahirnya generasi unggul demi masa depan bangsa. Lebih dari itu, program ini juga diharapkan mampu menjadi pemantik tumbuhnya gerakan kepedulian terhadap kesehatan anak yang semakin luas dan berkelanjutan di tengah masyarakat.
Tengku Muhammad Rum menambahkan, pemberdayaan masyarakat di Mundam sejalan dengan pilar Pertamina Sehat yang berfokus pada peningkatan kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
“Semangat ibu-ibu ini menjadi refleksi bagi kita bersama untuk meningkatkan kepedulian terhadap masa depan anak-anak. Melalui program TJSL yang inklusif, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai bersama kelompok mitra binaan terus berupaya agar peningkatan gizi dapat berjalan lebih optimal, konsisten, dan berkelanjutan,” katanya.
Ia menegaskan, sebagai perusahaan yang beroperasi di kawasan pesisir, Pertamina tidak hanya memberikan perhatian kepada nelayan, tetapi juga kepada keluarga mereka. Pemberdayaan ibu rumah tangga diharapkan dapat memperkuat ketahanan keluarga, meningkatkan pemahaman mengenai gizi, dan mendukung pelayanan posyandu.
Mendampingi Anak yang Membutuhkan
Upaya pencegahan stunting di Mundam dilatarbelakangi oleh temuan masalah gizi pada anak dan balita, termasuk kondisi Bawah Garis Merah (BGM), serta ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK). Melalui pendampingan kader posyandu, edukasi gizi, pemantauan kesehatan, dan pemberian makanan tambahan (PMT), kelompok berupaya membantu keluarga memenuhi kebutuhan gizi anak.
Berdasarkan data perusahaan, hingga April 2026 tercatat 26 anak dengan status BGM di wilayah pesisir Kelurahan Mundam. Data tersebut menjadi salah satu dasar pelaksanaan pendampingan dan intervensi gizi secara berkelanjutan.
Eva menyebut, kelompok juga berencana mengarahkan bantuan berikutnya untuk mendukung kebutuhan gizi anak-anak dan ibu hamil yang memerlukan perhatian khusus.
“Sekarang ada anak-anak yang menjadi fokus perhatian kami. Karena kebutuhan gizi mereka harus diprioritaskan, rencana penggunaan bantuan untuk membuat kolam lele akan dialihkan untuk membantu anak-anak yang membutuhkan, antara lain melalui pemberian susu dan biskuit,” katanya.
Ia menambahkan, tantangan di lapangan masih ada, mulai dari mengubah pola pikir masyarakat hingga keterbatasan sumber daya dan kemampuan ekonomi keluarga. Karena itu, edukasi dan pemberian makanan tambahan terus dilakukan sebagai bagian dari pendampingan.
Lebih jauh terkait pemasaran hasil produksi, rupanya ibu-ibu super kreatif ini memanfaatkan media sosial dengan membuat status seperti di facebook, whatshapp serta promosi aktif dari mulut ke mulut warga sekitar saja. Dalam pelaksanaan kegiatannya, Kelompok Tani Wanita Mundam Berseri menanam sayuran yang disertai adanya petugas piket secara bergantian karena tanaman hidroponik perlu rutin diukur PH nya sehingga proses benar-benar tercapai dengan maksimal. Kelompok ini adalah ibu rumah tangga para pejuang tangguh secara sukarela berbagi waktu, tenaga dan pikiran dengan ikhlasnya dan tanpa ada honor sama sekali tapi mereka sangat berbahagia menjalani kegiatan tersebut.
‘’Kita bisa mendapatkan honor hanya dari hasil penjualan tapi kita sudah bisa terlebih dahulu mencukupi apa yang diberikan kepada anak-anak. Kalau sudah mencukupi baru bisa dibagi, kalau belum mencukupi diutamakan dulu kebutuhan anak-anak bawah garis merah dan stunting. Yang jelas panennya berhasil dan kami sangat menikmatinya. Pokoknya terbaiklah Pertamina. Ya, cara kerjanya karena kita diberikan pelatihan dan kita ada membentuk kelompok tentu diberikan dana. Dari dana itu kita buatkan instalasi beli bibit dan pupuk lalu dipanen, kemudian kita olah sayurnya untuk jus dan puding lalu separuh lagi hasil produksinya kita jual,’’ papar Eva Herawati.
Dengan mata berbinar, wanita paruh baya ini menambahkan setelah mendapatkan bantuan CSR Pertamina sangat terasa sekali manfaat bagi kelompok mereka.
‘’Alhamdulillah, sangat membantu sekali Pertamina. Terus terang kita selama ini di Kelurahan Mundam ini tak adalah rasanya dipandang padahal kita juga wilayah ring satu karena daerah kita terletak dibelakang kilang Pertamina. Tapi semenjak ada perhatian Pertamina ini luar biasa, bukan Wanita Mundam Berseri aja yang dibantu, kita juga ada kelompok ikan namanya Mundam Jaya di pesisir yaitu ikan nila dikelola bapak-bapak. Kita ada dua kelompok yang dibina Pertamina di Mundam ini, satu sayuran untuk ibu-ibu dan satu lagi ikan nila untuk bapak-bapak. Jadi kami ini benar-benar binaan Pertamina, sangat-sangat bermanfaat sekali khususnya untuk warga pesisir yang kehidupan mereka teramat sangat susah dan kekurangan gizi jadi memang CSR Pertamina ini sangat tepat sasaran sekali,’’ ungkapnya.
Ketua RT 06 Kelurahan Mundam, Nasrul, mengapresiasi ketekunan para anggota kelompok yang tetap menjalankan kegiatan di tengah kesibukan rumah tangga. Menurutnya, para ibu tersebut tidak hanya mengelola kebun hidroponik, tetapi juga mengolah hasil panen menjadi makanan tambahan bagi anak-anak yang membutuhkan.
“Sebagai ketua RT, saya kagum melihat peran aktif Wanita Mundam Berseri. Di tengah kesibukan mengurus rumah tangga, mereka masih mampu membagi waktu untuk merawat tanaman dan berbagi dengan anak-anak yang kekurangan gizi. Semua ini juga didukung oleh bantuan Pertamina,” ujar Nasrul.
Ia berharap kegiatan tersebut terus berkembang sehingga manfaatnya semakin luas bagi masyarakat pesisir.
Apresiasi serupa disampaikan Lurah Mundam, Adi Aprianto. Menurutnya, keberadaan PLTS dan kebun hidroponik tidak hanya membantu efisiensi energi, tetapi juga memperkuat kepedulian masyarakat terhadap pemenuhan gizi anak.
Ia menilai kegiatan Wanita Mundam Berseri menjadi contoh bagaimana pemberdayaan masyarakat dapat dijalankan melalui kolaborasi antara perusahaan, kader posyandu, dan pemerintah kelurahan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Dumai, Hj Maini Asna SKM MSi mengapresiasi dukungan Pertamina dalam upaya mempercepat penurunan angka stunting di Kota Dumai. Menurutnya, kolaborasi pemerintah dan perusahaan melalui program TJSL dapat memperkuat pemenuhan gizi anak sekaligus meningkatkan kapasitas kader posyandu. Ia berharap perusahaan lain yang beroperasi di Kota Dumai turut mengambil bagian dalam kegiatan pemberdayaan serupa agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
“Pertamina telah melakukan edukasi kepada masyarakat pesisir dan kader posyandu untuk menanam sayuran bergizi secara mandiri. Dukungan PLTS juga membantu mengurangi beban biaya operasional. Kami sangat mengapresiasi kepedulian yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat yang membutuhkan,” kata Maini Asna.
Merawat Harapan dari Pesisir
Bagi Wanita Mundam Berseri, perjalanan membangun kebun hidroponik bukan sekadar urusan menanam dan memanen sayuran. Kegiatan itu membuka kesempatan bagi para ibu untuk belajar, bekerja sama, dan mengambil peran dalam membantu anak-anak di lingkungan mereka.
Dukungan Kilang Pertamina Dumai memberi ruang bagi kelompok untuk mengembangkan usaha berbasis potensi local sekaligus memperkenalkan pemanfaatan energi terbarukan dalam kegiatan masyarakat. ‘’Semuanya itu Pertamina yang berikan dan In Sya Allah tahun ini kita juga akan kembali pencairan lagi bantuan berikutnya rencana awal untuk membuat kolam lele. Hanya saja akan dialihkan penggunaan dana tersebut karena banyaknya status gizi balita dibawah garis merah jadi dana itu nantinya diperuntukkan bagi balita dan bumilkek yang dibawah garis merah. Sekarang sudah difloating pihak puskesmas ada 30 anak se-Kelurahan Mundam yang menjadi fokus perhatian kita, jadi dana CSR Pertamina ini kita alihkan untuk pemberian susu dan biskuit untuk anak-anak dibawah garis merah dan stunting,’’ tukas Eva Herawati.
Dilatarbelakangi dari rendahnya kesadaran masyarakat terhadap gizi anak dan balita. Saat evaluasi, ternyata ditemukan banyak sekali balita terdampak stunting, bayi dengan kondisi Bawah Garis Merah (BGM) serta ibu hamil kekurangan energi kronis. Hal ini juga diperkuat dengan kurangnya kemampuan warga dalam pengolahan makanan bergizi, serta sayur alami. Pertamina mendampingi Kader Posyandu untuk membangun instalasi hidroponik sekaligus pelatihan cara menanam sayur hidroponiknya.
‘’Kami sangat bersyukur karena pada akhirnya, hasil sayur hidroponik dapat diolah menjadi makanan sehat dan menarik untuk anak-anak dan orang tua. Bahkan, sebagian hasil tanaman atau olahannya juga dapat kami jual untuk menambah perekonomian warga,’’ ujarnya yang akrab sapa Eva.
Bantuan Pertamina ini sangat-sangatlah bermanfaat, begitu ucap mereka. ‘’Ya Allah janganlah sampai berhenti perhatian semacam ini untuk masyarakat yang memang betul-betul kekurangan dan membutuhkan bantuan. Tapi syukur Alhamdulillah nya kita akan dibina oleh Pertamina ini selama lima tahun secara berkesinambungan sampai dengan posisi kelompok kita bisa berdiri sendiri secara mandiri. Dan ini sudah berjalan tiga tahun kita berjalan dibawah naungan Pertamina,’’ harap local hero tersebut.
Kelompok Wanita Mundam Berseri sangat mengucapkan terimakasih kepada Pertamina karena bantuannya selama tiga tahun ini sangat-sangat membantu untuk penduduk di wilayah pesisir Kelurahan Mundam Kecamatan Medang Kampai, khususnya warga kurang mampu, balita dibawah garis merah, bumilkek.
‘’Harapannya jelas bagaimana program dan bantuan dati Pertamina ini jangan sampai terputus tapi semoga terus berkelanjutan karena warga terbantu dan mereka sangat senang sekali. Kami mendoakan Pertamina jaya terus, berkembang terus dan tetap melihat serta mendampingi warga-warganya yang ada di Kota Dumai,’’ pungkas Eva Herawati.
Namun, Eva menyadari bahwa perjuangan mereka belum selesai. Anak-anak yang membutuhkan pendampingan masih ada, sementara perubahan perilaku dan pemahaman mengenai gizi memerlukan proses yang berkelanjutan.
Tantangan demi tantangan masih terus dihadapi, mulai dari perubahan pola pikir masyarakat hingga keterbatasan sumber daya alam dan ekonomi.
“Caranya kami terus mengedukasi dan memberikan makanan tambahan kepada anak-anak yang membutuhkan,” katanya.
Perjuangan ini tidak berjalan sendiri tapi karena dukungan konsisten dari Kilang Pertamina Dumai melalui program CSR menjadi penguat utama dalam keberlanjutan program. “Selama ini kami sangat terbantu dan merasa bahagia karena kolaborasi dengan Pertamina semakin solid. Harapan kami, program ini bisa terus berlanjut karena masih banyak anak yang perlu kita dampingi,” ungkapnya
“Kami berharap pendampingan Pertamina terus berlanjut karena masih banyak anak yang perlu kami dampingi. Kami sangat terbantu selama ini. Semoga Pertamina terus berkembang dan tetap memperhatikan masyarakat di Kota Dumai,” tuturnya.
Di Mundam, harapan itu dirawat melalui langkah-langkah sederhana. Merawat tanaman, memantau kualitas air, memanen sayuran, mengolahnya menjadi makanan, lalu memastikan hasilnya bermanfaat bagi anak-anak yang membutuhkan.
Dari kebun kecil di kawasan pesisir itulah, para ibu terus berupaya menumbuhkan harapan. Bukan hanya agar sayuran tumbuh subur dan usaha mereka bertahan, tetapi juga agar anak-anak memperoleh gizi yang lebih baik, keluarga semakin berdaya dan kepedulian di antara sesama terus tumbuh.***






