Penulis : Rukiah Anita Sembiring Milala, MUNDAM
Pagi itu di Mundam, pesisir Kota Dumai, dimulai dengan kesibukan yang akrab bagi sebagian perempuan di kampung itu.
Di salah satu kampung tua yang berhampiran dengan Kilang Pertamina Dumai, ada ibu ibu yang bersiap membawa anaknya ke posyandu. Ada pula perempuan yang memeriksa tanaman di instalasi hidroponik, memastikan daun-daun pakcoy dan selada tetap segar di antara lubang-lubang tanam.
Di Posyandu Sakinah, timbangan dan alat ukur telah disiapkan. Satu per satu anak akan ditimbang, diukur, lalu dicatat perkembangannya. Posyandu Sakinah yang berada di belakang kilang Pertamina, tepatnya Perumahan Griya Pulai Sakinah Jalan Wan Zein Blok Safa Marwa RT 06 Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai merupakan salah satu wujud nyata bentuk perhatian dan kepedulian Pertamina terhadap posyandu.
Ketua Posyandu Sakinah, Eva Herawati mengatakan di Kelurahan Mundam mempunyai empat posyandu dan kesemua posyandu tersebut menerima bantuan dari PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Refinery Unit (RU) II Dumai. Bantuan yang diberikan Pertamina itu berupa timbangan, alat ukur bayi, alat ukur untuk usia dewasa.
‘’Ya, untuk sementara memang itulah yang diterima posyandu. Akan tetapi, karena Posyandu Sakinah sekarang ditempati oleh Wanita Mundam Berseri maka kami juga mendapatkan toren, mendapatkan cat juga. Kemudian dikasi mural dindingnya dan airnya diberikan filter di posyandu. Karena keberadaan Posyandu Sakinah itu sendiri berdampingan dengan kegiatan Wanita Mundam Berseri jadi kita memprioritaskan Posyandu Sakinah. Sedangkan tiga posyandu lainnya, yang kita berikan itu bantuannya PMT,’’ ujarnya.
Bagi para kader, pekerjaan itu bukan sekadar rutinitas bulanan. Ada pertumbuhan yang perlu dipantau, ada perubahan yang harus diperhatikan, dan ada orang tua yang membutuhkan pendampingan.
Tak jauh dari kegiatan tersebut, tanaman hidroponik tumbuh dengan cara yang berbeda dari sayuran di kebun tanah. Akar-akar menyerap nutrisi dari aliran air, sementara para perempuan yang merawatnya belajar memahami kebutuhan tanaman, menjaga instalasi, dan menunggu waktu panen.
Di tempat lain dalam kawasan kegiatan masyarakat itu, panel-panel surya menangkap cahaya matahari. Energi yang datang dari langit diubah menjadi listrik untuk membantu menggerakkan aktivitas Posko Gizi Pesisir Mundam.
Tiga kegiatan itu sekilas tampak berjalan sendiri-sendiri. Posyandu mengurus tumbuh kembang anak, hidroponik menyediakan sayuran, sedangkan panel surya menghasilkan listrik.
Namun, jika dilihat lebih dekat, ketiganya bertemu pada tujuan yang sama: membangun lingkungan yang lebih sehat sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat mengelola kebutuhannya sendiri.
Di Mundam, menjaga kesehatan anak tidak hanya dimulai ketika seorang balita duduk di hadapan kader untuk ditimbang. Ikhtiarnya jauh lebih panjang. Ada makanan yang perlu tersedia, pengetahuan yang perlu tumbuh, pelayanan yang harus terus berjalan, dan keluarga yang membutuhkan dukungan agar mampu memenuhi kebutuhan dasar.
Di antara upaya itulah Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai hadir melalui program pemberdayaan masyarakat. Dukungan sarana posyandu, pengembangan hidroponik, pemanfaatan energi bersih, serta pembekalan bagi kader menjadi bagian dari usaha memperkuat fondasi kesehatan masyarakat pesisir tersebut.
Dia menambahkan, Pertamina selalu memberikan fasilitas berupa barang. Dan belum lama ini pihaknya kembali mengajukan permohonan bantuan berupa jembatan tapi masih dalam proses menuju realisasi. Tidak dipungkiri bahwa sejak menerima bantuan, posyandu yang diketuainya menjadi bertambah semangat sehingga sampai mendatangkan bayi-bayi diijemput ke rumah dengan menggunakan kendaraan kaisar.
‘’Jadi bayi di posyandu kita ini ramai karena memang kita jemput ke rumah, tidak berdiam saja menunggu mereka datang ke posyandu memakai kaisar dari kelurahan. Jadi hubungan Wanita Mundam Berseri dengan Posyandu Sakinah sangat erat dan karena memang orangnya sama adalah Wanita Mundam Berseri adalah para kader posyandu ini juga.
Wanita Mundam Berseri ini sebenarnya dibentuk untuk membantu anak-anak BGM dan stunting, sebenarnya mau dibentuk itu warga tapi kalau warga tentunya mereka tidak tahu tentang ranah BGM ini sehingga yang kita cari adalah kader karena lebih mengetahuinya.
‘’BGM ini adalah anak-anak tidak sehat dimana berat badan tidak sesuai dengan umurnya. Ya, itulah inisiatif berdirinya itu karena banyak anak-anak pesisir sini yang status gizinya tidak baik sehingga saling menopang dengan harapan Wanita Mundam Berseri mampu membersamai Posyandu Sakinah. Tujuan utamanya sebenar membantu gizi anak-anak yang berada di kawasan pesisir ini dan kebetulan program TJSL Pertamina sangat membantu posyandu kami hingga saat ini Alhamdulillah,’’ paparnya.
Namun, fasilitas hanyalah permulaan. Timbangan baru tidak akan banyak berarti tanpa kader yang menggunakannya. Instalasi hidroponik tidak akan menghasilkan sayuran jika dibiarkan terbengkalai.
Panel surya pun baru memberi manfaat ketika energi yang dihasilkan benar-benar menunjang kegiatan masyarakat. Karena itu, cerita dari Mundam bukan semata tentang bantuan yang datang dari luar. Cerita ini juga tentang orang-orang yang menerima, mengelola, dan merawatnya.
Tentang perempuan yang menyediakan waktu untuk melayani, menanam, belajar, dan menjaga agar kegiatan yang telah dimulai tidak berhenti sebagai program sesaat.
Dari Posyandu, Menjaga Langkah Pertumbuhan
Seperti hari itu, 10 Oktober 2026. Tanggal rutin setiap bulan, Posyandu Sakinah menjadi salah satu tempat warga membawa anak-anak mereka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar dan pemantauan tumbuh kembang.
Di tempat ini, ukuran berat badan dan tinggi badan menjadi catatan penting untuk melihat perjalanan pertumbuhan seorang anak.
Bagi Eva Herawati, salah seorang kader Posyandu Sakinah, pelayanan tidak selalu selesai ketika kegiatan di posyandu berakhir.
Ada keluarga yang perlu diingatkan, ada anak yang harus mendapatkan perhatian, dan ada orang tua yang membutuhkan bantuan agar bisa menjangkau pelayanan kesehatan.
Dalam kondisi tertentu, para kader bahkan ikut membantu menjemput anak-anak menggunakan kendaraan Kaisar. Upaya sederhana itu memperlihatkan bahwa mendekatkan pelayanan kepada masyarakat terkadang membutuhkan lebih dari sekadar membuka pintu posyandu.
Di balik meja pencatatan, pekerjaan kader menuntut ketelitian dan kesabaran. Mereka menimbang, mengukur, mencatat, sekaligus mengamati. Setiap hasil pengukuran menjadi bagian dari pemantauan yang perlu diperhatikan secara berkelanjutan.
Kepada para orang tua, kader juga mengingatkan pentingnya memantau pertumbuhan anak secara rutin dan memperhatikan asupan makanan. Sebab, persoalan gizi tidak selalu terlihat dari wajah seorang anak yang tampak ceria.
Perubahan pertumbuhan perlu dikenali melalui pemantauan yang tepat, kemudian ditindaklanjuti sesuai kebutuhan.
Untuk mendukung pekerjaan tersebut, Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan membantu menyediakan sejumlah sarana bagi Posyandu Sakinah. Dukungan itu meliputi timbangan, alat ukur, toren air, pengecatan dan mural, serta penyaring air.
Bantuan juga menjangkau empat posyandu di Kelurahan Mundam. Selain Posyandu Sakinah, tiga posyandu lainnya memperoleh dukungan berupa pemberian makanan tambahan atau PMT.
Bagi sebuah tempat pelayanan yang bertumpu pada kerja rutin para kader, kelengkapan sarana dapat membantu menciptakan kegiatan yang lebih nyaman dan tertata. Air bersih, alat ukur, serta lingkungan yang lebih baik menjadi bagian dari dukungan terhadap pelayanan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Meski demikian, upaya menjaga pertumbuhan anak tidak berhenti pada tersedianya fasilitas. Orang tua tetap membutuhkan informasi, pendampingan, dan akses kepada tenaga kesehatan ketika ditemukan kondisi yang memerlukan perhatian lebih lanjut.
Di sinilah peran kader menjadi penting. Mereka berada dekat dengan keluarga, mengenal lingkungan tempat tinggal warga, dan menjadi salah satu penghubung antara masyarakat dengan pelayanan kesehatan.
Dari pertemuan-pertemuan sederhana itulah perhatian terhadap tumbuh kembang anak terus dipelihara.
Perjuangan ini tidak berjalan sendiri tapi karena dukungan konsisten dari Kilang Pertamina Dumai melalui program CSR menjadi penguat utama dalam keberlanjutan program.
“Selama ini kami sangat terbantu dan merasa bahagia karena kolaborasi dengan Pertamina semakin solid. Harapan kami, program ini bisa terus berlanjut karena masih banyak anak yang perlu kita dampingi,” ungkapnya serius.
Selain Pertamina, pihak Pemerintah Kota Dumai melalui Pemerintah Kelurahan Mundam juga menaruh perhatian baik terhadap posyandu.
‘’Buk Lurah dan Pak Lurah sangat support dan mendukung sekali atas bantuan Pertamina ini untuk posyandu yang berada di Kelurahan Munda mini. Bahkan mereka juga yang memilih kader-kader terbaik untuk ditempatkan di Kelompok Tani Wanita Mundam Berseri supaya dapat berjalan sebagaimana diharapkan. Pertamina pun selama ini sinkron dengan pihak kelurahan dalam memperhatikan posyandu.
‘’Perlengkapan kita sudah ada memang sebelum bantuan Pertamina tapi memperoleh bantuan dari perusahaan tentunya semakin terlengkapi lagi kebutuhan posyandu kita,’’ imbuhnya.
Lebih jauh Eva menyebut kondisi Posyandu Sakinah saat ini terbilang sempit, sementara jumlah anak dan balita yang datang ramai hingga berdesak-desakan. Akan tetapi, tahun ini ada bantuan Dankel akan dibangun kanopi dan plafon dari dana kelurahan.
‘’Alhamdulillah kita dibantu Dankel, sementara Pertamina mensupport kita dengan anak-anak BGM dalam pemenuhan gizi mereka. Bahkan bantuan Pertamina ini sangat-sangat membantu sekali, kemarin hasil yang didapatkan bahwa jumlah anak-anak BGM berkurang atau menunjukkan penurunan.
Bicara harapan, wanita paruh baya ini mengatakan kalau posyandu lain juga berharap bisa seperti Posyandu Sakinah juga mendapatkan bantuan dari perusahaan.
‘’Artinya, kita ini sangat amat bersyukur karena terpilih oleh Pertamina, tapi kita berharap Pertamina dapat membantu posyandu-posyandu lainnya secara berkelanjutan meskipun tidak di wilayah ring satu perusahaan. Bagi kami, Pertamina sangat luar biasa dan kami dari Posyandu Sakinah sangat terbantu sekali dan posyandu kita juga seringkali dijadikan pusat kunjungan bila ada tamu yang datang. Dan Alhamdulillah kita kader posyandu ini solid dan kompak. Kita goro bersama di posyandu, kalau saat mengerjakan hidroponik kita sama-sama menanam dan memanen dan melaksanakan piket secara bergantian. Terimakasih Pertamina,’’ pungkas Eva Herawati.
Perempuan Mundam, Menanam Harapan dari Hidroponik
Ikhtiar menumbuhkan generasi sehat tidak hanya berlangsung di ruang pelayanan posyandu. Di Mundam, upaya itu juga tumbuh dari tangan-tangan perempuan yang merawat sayuran melalui Kelompok Wanita Mundam Berseri.
Kelompok ini dibentuk untuk mendukung upaya membantu anak-anak dengan kondisi berat badan di bawah garis merah (BGM) serta ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK). Keduanya merupakan persoalan yang membutuhkan perhatian bersama, termasuk melalui perbaikan pemenuhan gizi dan penguatan kemampuan keluarga.
Pada akhir 2024, Pertamina memberikan dukungan berupa dua instalasi hidroponik dengan kapasitas sekitar 300 lubang tanam. Pakcoy dan selada menjadi pilihan tanaman yang dibudidayakan oleh kelompok perempuan tersebut.
Sejak itu, instalasi hidroponik bukan sekadar tempat menumbuhkan sayuran. Di sana, perempuan belajar merawat tanaman, memperhatikan kebutuhan nutrisi, menjaga aliran air, dan mengenali proses yang menentukan keberhasilan panen.
Ada ketekunan yang dibutuhkan untuk membuat tanaman tumbuh baik. Air dan nutrisi harus terjaga, tanaman perlu diperiksa, sementara hasilnya tidak bisa dipetik sebelum waktunya.
Pekerjaan tersebut mengajarkan bahwa sesuatu yang bermanfaat sering kali berawal dari perawatan yang dilakukan sedikit demi sedikit.
Ketika masa panen tiba, sayuran yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga atau dijual. Hasil penjualan turut membantu menunjang kegiatan posyandu, sehingga aktivitas produktif kelompok perempuan memiliki hubungan langsung dengan upaya pelayanan kesehatan di lingkungan mereka.
Hubungan itu membuat hidroponik memiliki arti lebih luas daripada sekadar bercocok tanam. Di satu sisi, sayuran menjadi pilihan sumber pangan. Di sisi lain, kegiatan tersebut membuka kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan keterampilan dan mengelola potensi yang tersedia di sekitar mereka.
Dari instalasi yang dirawat bersama, tumbuh pula pengalaman mengatur pekerjaan, menjaga keberlangsungan tanaman, dan memanfaatkan hasil panen. Pengetahuan itu menjadi bekal bagi kelompok untuk mengembangkan kegiatan sesuai kemampuan serta kebutuhan masyarakat.
Pemberdayaan perempuan memang tidak selalu dimulai dari usaha berskala besar. Terkadang, langkah awalnya hadir melalui ruang sederhana tempat seseorang belajar menghasilkan sesuatu, mengambil peran, dan merasakan bahwa keterampilannya dapat memberi manfaat bagi keluarga maupun lingkungan.
Bagi Mundam, hidroponik mempertemukan kebutuhan pangan dengan semangat kemandirian. Ketika perempuan ikut mengelola sumber pangan, mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi juga bagian dari penggerak yang menjaga agar manfaat tersebut terus berlanjut.
Energi Matahari untuk Menggerakkan Posko Gizi
Di Mundam, upaya membangun kemandirian juga menyentuh persoalan energi. Kegiatan masyarakat membutuhkan listrik agar dapat berjalan dengan baik, sementara pengeluaran operasional perlu diperhitungkan supaya program tetap bisa dilaksanakan secara berkelanjutan.
Pada Juli 2025, sistem pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hibrida off-grid berkapasitas 4,4 kilowatt-peak (kWp) dipasang di Posko Gizi Pesisir Mundam. Sistem tersebut dilengkapi baterai penyimpanan energi berkapasitas 10 kilowatt-hour (kWh).
Panel-panel surya menangkap cahaya matahari, mengubahnya menjadi energi listrik, lalu menyimpan sebagian energi melalui sistem baterai. Teknologi itu membantu menyediakan pasokan listrik untuk mendukung aktivitas posko, termasuk kegiatan hidroponik.
Pemanfaatan energi matahari juga membantu menekan biaya listrik dengan penghematan sekitar Rp250 ribu setiap bulan. Nilainya mungkin terlihat sederhana jika dibandingkan dengan kebutuhan program secara keseluruhan, tetapi penghematan rutin dapat memberikan ruang bagi pengelola untuk memperhatikan kebutuhan lainnya.
Dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, keberlanjutan tidak hanya bergantung pada seberapa besar bantuan yang diterima. Kemampuan mengelola biaya, merawat peralatan, dan memanfaatkan sumber daya secara efisien turut menentukan apakah kegiatan dapat terus berjalan setelah dukungan awal diberikan.
Instalasi tersebut merupakan bagian dari program Serumpun Paman Bahri. PLTS ini juga menjadi instalasi keempat yang didukung Kilang Dumai bersama Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), setelah tiga instalasi lainnya berada di Tanjung Palas dan Mundam, termasuk instalasi yang dimanfaatkan Kelompok Mundam Jaya.
Kehadiran teknologi energi bersih memperlihatkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat berjalan seiring dengan pemanfaatan sumber energi terbarukan. Matahari yang setiap hari menyinari kawasan pesisir tidak hanya menjadi bagian dari lanskap, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas produktif masyarakat.
Di Posko Gizi Pesisir Mundam, energi tersebut bertemu dengan kebutuhan yang nyata. Listrik membantu menunjang kegiatan, hidroponik menyediakan pilihan sumber pangan, sementara kelompok perempuan dan para kader menjaga agar aktivitas yang ada tetap hidup.
Tidak semua manfaat dapat diukur hanya dari besarnya daya listrik atau nilai penghematan bulanan. Ada pula manfaat yang muncul dari pengetahuan baru, pengalaman mengelola teknologi, dan kesempatan bagi masyarakat untuk memahami cara memanfaatkan sumber daya secara lebih efisien.
Dengan begitu, energi bersih tidak berhenti sebagai perangkat yang terpasang di sebuah bangunan. Ia menjadi bagian dari ikhtiar yang lebih luas untuk memperkuat kegiatan masyarakat, mengurangi beban operasional, dan membuka jalan bagi pengelolaan program yang semakin mandiri.
Membekali Kader, Menguatkan Pelayanan
Sarana yang memadai membutuhkan orang-orang yang mampu menggunakannya. Begitu pula pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat. Timbangan dan alat ukur membantu menyediakan data pertumbuhan, tetapi pemahaman kader diperlukan untuk memastikan hasil pemantauan menjadi bagian dari perhatian yang tepat terhadap anak.
Karena itu, penguatan kapasitas kader menjadi bagian dari pendampingan yang dilakukan di Mundam. Melalui kerja sama dengan Rumah Sakit Pertamina Dumai, para kader mendapatkan pembekalan mengenai pencegahan stunting, pijat bayi, hingga bantuan hidup dasar atau Basic Life Support.
Pembekalan tersebut memberi kesempatan bagi kader untuk menambah pengetahuan yang berkaitan dengan tugas mereka. Dalam keseharian, kader berhadapan langsung dengan ibu dan anak, memantau perkembangan balita, serta membantu menyampaikan informasi kesehatan kepada keluarga.
Pengetahuan tentang pencegahan stunting, misalnya, berkaitan dengan pentingnya perhatian terhadap pertumbuhan anak sejak dini.
Sementara itu, keterampilan bantuan hidup dasar memberikan pengenalan mengenai tindakan awal dalam situasi kegawatdaruratan, sesuai kompetensi yang telah dipelajari dan prosedur yang berlaku.
Erdayati, salah seorang kader yang terlibat dalam kegiatan tersebut, menjadi bagian dari perempuan-perempuan yang menjalankan pelayanan di tingkat masyarakat. Di balik kegiatan posyandu yang berlangsung secara rutin, ada waktu, tenaga, dan kepedulian yang mereka sumbangkan agar anak-anak tetap memperoleh perhatian.
Pekerjaan itu sering berlangsung tanpa banyak sorotan. Kader perlu meluangkan waktu, berkoordinasi dengan sesama penggerak, berkomunikasi dengan keluarga, serta menjaga agar kegiatan berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Melalui pembekalan, para kader diharapkan semakin percaya diri dalam menjalankan tugas, memahami batas kemampuan mereka, dan mengetahui kapan seseorang perlu dirujuk untuk mendapatkan penanganan tenaga kesehatan. Pengetahuan menjadi bekal, sedangkan koordinasi dan pelayanan profesional tetap dibutuhkan untuk menangani persoalan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Upaya tersebut juga sejalan dengan penguatan pelayanan kesehatan melalui pendekatan Integrasi Layanan Primer (ILP), yang mendorong pelayanan lebih terpadu dan berkesinambungan sesuai kebutuhan masyarakat.
Dalam pelaksanaannya, tidak ada satu pihak yang dapat bekerja sendirian. Kader posyandu, kelompok perempuan, pemerintah kelurahan, tim penggerak PKK, serta tenaga kesehatan memiliki peran masing-masing. Ketika peran-peran itu saling terhubung, pelayanan menjadi lebih dekat dengan kebutuhan warga.
Kolaborasi itulah yang membantu menjembatani sarana, pengetahuan, dan praktik sehari-hari. Program pemberdayaan tidak hanya menyediakan fasilitas, tetapi juga memperkuat orang-orang yang menggunakannya agar manfaat yang diharapkan dapat dirasakan secara lebih luas.
Menyemai Kemandirian, Merawat Masa Depan
Bagi Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai, program pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan untuk menghadirkan manfaat di sekitar wilayah operasional.
Dukungan tersebut diwujudkan melalui kegiatan yang menyentuh kebutuhan masyarakat, termasuk kesehatan, pemenuhan gizi, pengembangan kelompok perempuan, dan pemanfaatan energi bersih.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Kilang Dumai, Tengku Muhammad Rum, menyebut program tersebut sebagai bagian dari upaya perusahaan membangun hubungan dan kolaborasi dengan masyarakat melalui berbagai program sosial.
Di Mundam, dukungan itu bertemu dengan orang-orang yang menjalankan kegiatan secara langsung. Widya Aulia Rahmi dari TP PKK Mundam, Hj. Leni Ramaini, SKM, dari TP Posyandu Dumai, serta Suriani dari Dinas Kesehatan turut menjadi bagian dari ekosistem kolaborasi yang mendukung pelayanan dan upaya peningkatan kesehatan masyarakat.
Masing-masing membawa peran yang berbeda. Ada yang menguatkan koordinasi, ada yang mendampingi keluarga, ada yang menjalankan pelayanan, dan ada pula yang menjaga kegiatan pemberdayaan agar terus bergerak. Perbedaan peran itu menjadi kekuatan ketika semuanya diarahkan pada kebutuhan masyarakat.
Bagi warga, keberlanjutan menjadi harapan yang tak kalah penting dari hadirnya bantuan awal. Lala, salah seorang warga, berharap dukungan Pertamina dapat terus hadir bagi masyarakat. Ia mengibaratkan bantuan yang diberikan seperti obor yang menerangi langkah warga.
Perumpamaan itu menyimpan makna tentang harapan. Obor dapat menerangi jalan, tetapi orang-orang yang berjalan tetap harus melangkah, menjaga arah, dan menentukan tujuan. Demikian pula program pemberdayaan. dukungan dapat membuka kesempatan, sementara keberlanjutannya memerlukan keterlibatan masyarakat yang merawat apa yang telah dimulai.
Ukuran keberhasilan tidak cukup dilihat dari jumlah fasilitas yang tersedia atau kegiatan yang terlaksana. Manfaat yang lebih mendasar terlihat ketika sarana digunakan secara konsisten, pengetahuan diterapkan, kelompok mampu menjalankan aktivitasnya, dan keluarga semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan anak.
Di Mundam, proses itu berlangsung melalui pekerjaan-pekerjaan yang, tampak sederhana. Ada anak yang datang untuk ditimbang, ada kader yang mencatat pertumbuhan, ada perempuan yang memeriksa sayuran, dan ada panel surya yang membantu menyediakan listrik bagi kegiatan masyarakat.
Masing-masing memiliki jalannya sendiri, tetapi semuanya menyimpan hubungan dengan masa depan anak-anak. Pemantauan pertumbuhan membantu keluarga memperhatikan kondisi anak. Hidroponik membuka pilihan untuk memanfaatkan sumber pangan. Pembekalan kader memperkuat pelayanan, sementara energi bersih membantu menunjang kegiatan agar berjalan lebih efisien.
Menumbuhkan generasi sehat memang bukan pekerjaan yang selesai dalam satu kegiatan atau satu periode program. Ia membutuhkan perhatian yang berkelanjutan, pemenuhan gizi, pengetahuan kesehatan, pelayanan yang dapat dijangkau, serta lingkungan yang mendukung keluarga dalam merawat anak-anak mereka.
Di pesisir Mundam, ikhtiar itu sedang disemai melalui kerja bersama. Para kader terus melayani, perempuan merawat tanaman, kelompok masyarakat mengelola sarana yang tersedia, dan berbagai pihak membangun kolaborasi agar manfaat program tidak berhenti pada bantuan yang pernah diterima.
Dari tangan-tangan yang menimbang, menanam, merawat, dan mendampingi, tumbuh harapan tentang masyarakat yang semakin mampu mengelola potensinya sendiri. Kemandirian tidak hadir sekaligus, melainkan dibangun melalui keterampilan, kesempatan, dan kesediaan untuk menjaga apa yang telah dimulai.
Energi yang menyala di Mundam bukan hanya energi yang berasal dari matahari. Ada energi kepedulian dalam kerja para kader, energi ketekunan pada perempuan yang merawat hidroponik, dan energi kebersamaan yang menghubungkan masyarakat dengan para pendampingnya.
Selama energi itu terus dirawat, harapan untuk menumbuhkan generasi yang lebih sehat akan selalu memiliki tempat untuk tumbuh. Dari pesisir Mundam, langkah-langkah kecil itu menyemai kemandirian—agar anak-anak memperoleh kesempatan tumbuh lebih baik, perempuan semakin berdaya, dan masyarakat semakin percaya pada kemampuannya sendiri untuk merawat masa depan. ***






