JAKARTA (DUMAIPOSNEWS)-Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) menggelar aksi demonstrasi bertajuk ‘Aksi Menuju Indonesia Bangkrut’ di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Jumat (12/6/).
Aksi tersebut membawa lima tuntutan utama kepada pemerintah dan Presiden Prabowo Subianto, yang dinilai bertanggung jawab atas berbagai persoalan ekonomi dan kebijakan nasional saat ini.
Menjelang aksi, BEM UI mengumumkan mobilisasi massa melalui akun Instagram resmi @bemui_official. Dalam poster yang diunggah, organisasi mahasiswa itu menampilkan tulisan mencolok “PERINGATAN (SANGAT) DARURAT”, sebagai simbol kondisi yang mereka anggap sedang dihadapi Indonesia.
Demonstrasi ini digelar di tengah meningkatnya tekanan ekonomi masyarakat, mulai dari naiknya harga kebutuhan pokok hingga melonjaknya harga bahan bakar minyak (BBM). BEM UI menilai kondisi tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang dianggap keliru dan tidak berpihak kepada rakyat.
Aksi ini juga merupakan tindak lanjut dari pernyataan sikap sejumlah BEM fakultas di Universitas Indonesia yang sebelumnya menyuarakan kritik terhadap kondisi ekonomi nasional, arah pemerintahan, serta berbagai program pemerintah.
5 Tuntutan BEM UI
Dalam konsolidasi internal yang dilakukan sebelum aksi, mahasiswa menyepakati lima tuntutan utama yang menjadi fokus demonstrasi.
1. Hentikan Pemborosan APBN
BEM UI menyoroti kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang mengalami defisit dalam lima bulan pertama tahun ini. Mereka menilai pemerintah belum mampu mengelola keuangan negara secara efisien.
Selain itu, mahasiswa menilai sejumlah pos belanja negara belum menunjukkan keberpihakan yang jelas kepada masyarakat. Program-program unggulan pemerintah juga dianggap belum memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan rakyat.
Menurut mereka, situasi tersebut menjadi sinyal perlunya evaluasi menyeluruh terhadap penggunaan anggaran negara.
2. Turunkan Harga Kebutuhan Pokok dan BBM
Isu ekonomi menjadi salah satu sorotan utama dalam aksi ini. BEM UI menilai kenaikan harga kebutuhan pokok dan BBM telah memperberat beban masyarakat.
Mahasiswa menyoroti kenaikan harga Pertamax yang disebut naik menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter. Kenaikan tersebut dinilai turut memicu lonjakan harga berbagai komoditas lainnya.
Akibatnya, daya beli masyarakat terus tergerus, terutama bagi kelompok berpenghasilan rendah yang paling terdampak oleh kenaikan harga barang dan jasa.
3. Hentikan Program MBG dan
Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih
Tuntutan berikutnya adalah penghentian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta pembangunan Koperasi Desa M
Menurut BEM UI, program MBG dinilai tidak tepat sasaran dan belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lapisan bawah. Program tersebut juga kembali menjadi sorotan setelah kepala dan dua wakil Badan Gizi Nasional (BGN) ditangkap Kejaksaan Agung dalam kasus dugaan korupsi.
Selain MBG, mahasiswa juga mengkritik pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Mereka menilai program tersebut mengurangi alokasi dana desa dan dalam pelaksanaannya banyak lokasi pembangunan yang dianggap kurang strategis.
4. Hentikan Militerisme di Ranah Sipil
BEM UI juga menyoroti meningkatnya keterlibatan unsur militer di berbagai sektor sipil.
Menurut mereka, militer saat ini semakin banyak masuk ke bidang birokrasi, pemerintahan, pendidikan, hingga sektor nonpertahanan lainnya. Kondisi tersebut dinilai perlu dievaluasi agar fungsi militer tetap berfokus pada tugas utama di bidang pertahanan negara.
Mahasiswa meminta adanya pembatasan yang jelas antara peran sipil dan militer dalam tata kelola pemerintahan.
5. Presiden Prabowo Diminta Mengakui Kesalahan Pemerintah
Tuntutan terakhir sekaligus menjadi puncak dari seluruh aspirasi yang dibawa dalam aksi ini adalah permintaan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mengakui kesalahan pemerintah dan berhenti mengelak dari berbagai persoalan yang terjadi.
BEM UI menilai berbagai program, kebijakan, dan keputusan yang diambil pemerintah saat ini telah berkontribusi terhadap kondisi ekonomi dan sosial yang dirasakan masyarakat.
Karena itu, mereka meminta Presiden Prabowo bertanggung jawab secara politik atas berbagai kebijakan yang dianggap bermasalah serta memberikan penjelasan kepada publik mengenai kondisi Indonesia saat ini.
Mengapa BEM UI Mengangkat Narasi “PERINGATAN (SANGAT) DARURAT”?
Tulisan “PERINGATAN (SANGAT) DARURAT” yang muncul dalam materi kampanye aksi menjadi simbol keresahan mahasiswa terhadap kondisi nasional yang mereka nilai semakin mengkhawatirkan.
Bagi BEM UI, persoalan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, pengelolaan anggaran negara, hingga arah kebijakan pemerintahan saat ini bukan lagi masalah biasa, melainkan kondisi yang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
Melalui aksi ‘Aksi Menuju Indonesia Bangkrut’, mahasiswa berharap pemerintah merespons kritik publik secara terbuka dan melakukan evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat.(jawapos/rio)






