Pakcik : Periode Kedua Bambang Prayetno, Harus Perkuat Pemberdayaan Wartawan

DUMAI (DUMAIPOSNEWS) — Pemilihan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Dumai, Provinsi Riau, mulai menarik perhatian. Salah satu kandidat yang kembali maju adalah Bambang Prayetno, petahana yang telah menuntaskan periode kepemimpinan pertamanya dan kini bersiap melanjutkan pengabdian di organisasi profesi wartawan tersebut.

Pencalonan Bambang mendapat perhatian dari Sayed Junaidi Rizaldi, M.Si., yang akrab disapa Pakcik. Putra kelahiran Dumai yang juga menjabat Ketua Umum Rembuk Nasional Aktivis 98 (RNA 98) itu menilai Bambang memiliki modal kepemimpinan yang relevan untuk membawa PWI Dumai memasuki tahap penguatan organisasi.

Menurut Pakcik, yang juga putra daerah, dirinya cukup memahami dinamika sosial dan karakter kepemimpinan yang dibutuhkan untuk menjaga kebersamaan di tengah masyarakat Dumai, termasuk dalam lingkungan organisasi profesi wartawan.

“Saya melihat Bambang Prayetno memiliki karakter kepemimpinan yang mampu bergerak cepat, mengayomi, dan tidak mengedepankan pendekatan konfrontatif. Dalam organisasi, kemampuan merangkul banyak pihak merupakan modal penting untuk menjaga soliditas dan membangun kerja bersama,” ujar Pakcik.

*Periode Pertama: Konsolidasi dan Penguatan Organisasi*

Pakcik menilai, kepemimpinan pada periode pertama merupakan fase penting untuk membangun fondasi organisasi. Konsolidasi internal, penguatan kelembagaan, dan menjaga kebersamaan antaranggota menjadi pekerjaan mendasar yang harus diselesaikan sebelum organisasi melangkah lebih jauh.

Dalam konteks tersebut, ia memandang periode pertama Bambang telah berhasil membangun pijakan bagi PWI Dumai agar semakin solid dan mampu menjalankan perannya sebagai organisasi profesi wartawan.

Namun, menurut Pakcik, tantangan pada periode berikutnya tentu berbeda. Jika periode pertama lebih menitikberatkan pada konsolidasi dan penguatan organisasi, periode kedua semestinya diarahkan pada pemantapan program, peningkatan manfaat organisasi, serta pembangunan fondasi bagi keberlanjutan kepemimpinan.

“Kalau periode pertama adalah fase konsolidasi dan penguatan organisasi, maka periode berikutnya harus menjadi fase pemantapan. Organisasi tidak cukup hanya solid secara internal, tetapi juga harus mampu menghadirkan manfaat yang nyata bagi seluruh anggotanya,” tegasnya.

*Kesejahteraan Wartawan Harus Menjadi Perhatian*

Salah satu hal yang menjadi perhatian Pakcik adalah aspek ekonomi dan kesejahteraan wartawan. Menurutnya, anggota organisasi profesi memiliki kondisi ekonomi, kesempatan, dan tingkat kesejahteraan yang berbeda-beda.

Karena itu, PWI Dumai perlu memikirkan program-program konkret yang dapat membuka peluang peningkatan kapasitas dan kesejahteraan anggota, tanpa mengabaikan independensi serta profesionalisme jurnalistik.

Ia menilai, penguatan organisasi seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, konsolidasi internal, atau agenda formal semata. Organisasi juga perlu membangun program pemberdayaan yang relevan dengan kebutuhan wartawan, termasuk membuka peluang kerja sama ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.

“Tidak semua kawan-kawan wartawan berada pada tingkat ekonomi yang sama. Karena itu, organisasi perlu hadir dengan program yang bisa membuka peluang, meningkatkan kapasitas, dan membantu anggota memperbaiki kesejahteraannya. Tentu semuanya harus dilakukan secara profesional, transparan, dan tetap menjaga independensi pers,” kata Pakcik.

Menurutnya, program pemberdayaan tersebut perlu dirancang secara realistis dengan mempertimbangkan kemampuan organisasi, kebutuhan anggota, serta peluang kerja sama yang dapat dipertanggungjawabkan.

*Kepemimpinan Harus Meninggalkan Legacy*

Bagi Pakcik, tantangan terbesar bagi seorang Bambang, memastikan bahwa masa kepemimpinannya meninggalkan warisan yang dapat dirasakan oleh anggota dan dilanjutkan oleh kepengurusan berikutnya.

Legacy, menurutnya, harus tercermin dalam organisasi yang semakin kuat, program yang berjalan berkelanjutan, meningkatnya profesionalisme wartawan, serta terbukanya peluang pemberdayaan bagi anggota.

Ia berharap, apabila kembali mendapat kepercayaan memimpin PWI Dumai, Bambang Prayetno dapat menjadikan periode berikutnya sebagai momentum untuk memperluas manfaat organisasi dan menyiapkan kesinambungan kepemimpinan.

“Pemimpin organisasi tidak cukup hanya meninggalkan nama atau catatan masa jabatan. Yang lebih penting adalah meninggalkan sistem yang baik, program yang berkelanjutan, organisasi yang semakin kuat, dan manfaat yang benar-benar dirasakan anggota,” ujarnya.

*Pemilihan Harus Memperkuat Persaudaraan*

Di tengah dinamika pemilihan Ketua, Pakcik mengingatkan bahwa kontestasi dalam organisasi profesi semestinya menjadi ruang adu gagasan, program, dan rekam jejak, bukan ajang yang justru menimbulkan perpecahan.

Menurutnya, siapa pun yang nantinya memperoleh kepercayaan anggota, kepentingan utama yang harus dijaga adalah marwah organisasi, profesionalisme wartawan, dan persaudaraan sesama insan pers.

“Pemilihan Ketua adalah bagian dari dinamika organisasi. Perbedaan pilihan itu wajar, tetapi jangan sampai merusak persaudaraan. Yang harus kita kedepankan adalah gagasan, program, dan komitmen untuk memajukan PWI Dumai,” katanya.

Ia berharap proses pemilihan dapat berlangsung secara demokratis dan bermartabat, sekaligus menjadi momentum bagi seluruh anggota untuk merumuskan arah organisasi ke depan.

Bagi Pakcik, PWI Dumai memiliki peluang untuk memasuki tahap yang lebih maju, tidak hanya kuat dalam konsolidasi, tetapi juga mampu meningkatkan profesionalisme, memperhatikan kesejahteraan anggota, dan mempersiapkan regenerasi.

“Pada akhirnya, keberhasilan seorang Ketua bukan hanya diukur dari bagaimana ia memimpin selama menjabat, tetapi juga dari seberapa kuat organisasi yang ia tinggalkan dan seberapa besar manfaat kepemimpinannya dirasakan oleh anggota, dan saya yakin Bambang bisa mempersiapkan hal tersebut” tutup Pakcik.(rio)