Demi Penuhi Permintaan Dapur SPPG, Parit Samping Rumah Disulap jadi Kolam Lele

Anggota Kopdakan saat memanen ikan lele yang disaksikan oleh Ketua Kopdakan dan tim inisiator program PT PHR

 

Tidak menyangka kalau parit sepanjang lebih kurang 50 meter dengan lebar sekitar 1,5 meter disulat menjadi kolam ikan. Parit dengan kedalaman setengah meter yang berada dipinggir rumah itu, dimanfaatkan sebagai kolam membudidaya ikan lele. Langkah ini dilakukan lantaran kapasitas kolam yang ada sudah tidak mencukupi lagi untuk kebutuhan, sementara permintaan semakin banyak setelah Kopdakan ini bekerjsama dengan mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Laporan: Bambang Hendriyanto, Tapung

Siang itu, Rabu (23/9/2026) sejumlah anggota Kopdakan berada di dalam kolam untuk menangkapi ikan-ikan lele yang sudah memasuki masa panen.

Kegembiraan terpancar dari mereka yang berada didalam kolam berisikan air se mata kaku, saat tangguk berukuran sedang diangkat keatas ikan-ikan yang berada didalam tangguk berusaha menyelamatkan diri dengan melompat-lompat, sehingga membuat air terpecik ke baju para pekerja hingga basah.

Walau ada beberapa ekor yang berhasil lepas kembali ke kolam, namun tidak menjadi masalah karena proses panen dilakukan hingga ikan yang ada didalam kolam dipastikan kosong .

Setelah ikan selesai di panen,  kolam yang berada di halaman rumah Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Mekar Mulia yang berada di Desa Gading Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau dibersihkan untuk kembali di isi dengan ikan selanjutnya.

Desa Gabing Sari, daerah yang bertetangga dengan beberapa fasilitas milik PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) diantaranya pipa angguk dan fasilitas lainya. Sehingga keberadaan masyarakat desa tersebut masuk dalam radius ring 1 PT PHR di wilayah Tapung.

Berjejer kolam berbagai bentuk mulai  terbuat dari batu, terpal dan bahkan menggunakan parit dipenuhi ikan-ikan lele berbagai ukuran, mulai dari yang kecil (masa pembibitan), sedang hingga lele siap panen.

Yang menarik adalah kolam yang menggunakan parit dengan air tetap mengalir, yang memang sudah dibuat khusus agar lele tidak keluar dengan menyekat pada ujung dan pangkal parit tersebut.

Bagi Sugiyarto, Ketua Pokdakan inisiatif menggunakan parit menjadikan kolam ikan adalah cara terakhir, karena kurangnya kolam yang ada. Sementara permintaan ikan lele semakin meningkat, menyusul telah dilakukan kerjasama degan mitra SPPG yang ada Kecamatan Tapung.

Langkah inisiatif yang dilakukan Sugiyarto bersama dengan anggotanya sangat membantu dalam pengembangan ternak lele Pokdakan mereka.”Kami sudah bingung, kolam yang ada tidak mencukupi, sehingga kami mencoba parit disamping rumah dijadikan kolam, dengan terlebih dahulu menyekat namun air tetap mengalir,”ujar Sugiyarto, sembari menunjuk dan melangkahkan kaki menju arah parit tersebut.

Desa Gading Sari yang jumlah penduduknya mencapai 4.875 jiwa dengan jumlah Kepala Keluarga mencaiau 1. 210  yang terdiri dari 20 RT, 4 Kepala Dusun (Kadus) dan 5 Rukun Warga (RW) yang masyarakatnya  bekerja sebagai petani sawit, mulai dari penanam, pemanen dan penjaga kebun sawit.

Untuk membantu menjalankan Pokdakan ini, Sugiyarto saat ini sudah memperkerjakan sebanyak 15 orang masyarakat sekitar termasuk diantaranya beberapa orang diantaranya perempuan. Mereka yang dilibatkan selain sebagai petani, warga yang dilibatkan sehari sekali ke kolam ikan. Dalam merekrut masyarakat bergabung, yang terpenting adalah kompak bekerja dalam tim dengan kemauan yang besar untuk bekerja.

“Kita memperkerjakan warga, jadi selain mengurusi kebun sawit mereka juga kita ikut sertakan untuk bersama mengurus ternak lele sesuai jadwalnya,”ujur pria yang juga menjabat sebagai Sekretaris Desa Gading Sari. Perjalanan panjang usaha Kopdakan banyak rintangan dan hambatan, namun bagi mereka ini sebuah tantangan untuk terus maju.

Hingga akhirnya, usaha dan kerja keras bersama anggota Kopdakan ini  berhasil mengembangkan sayap dengan menambah kolam yang sebelumnya hanya 10 kolam dan sekarang mereka sudah memilik 50 kolam. Namun jumlah itu pun dirasakan masih kurang.

Ini semua selain kerja keras, juga adanya peran atas bantuan pihak PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), dengan memberikan bantuan berupa mesin penggiling pakan.”Kami mengakui usaha kolam lele ini yang paling berat itu adalah penyediaan pakan ikan. Alhamdulillah, berkat bantuan dari PT PHR, kami sangat terbantu untuk terus berkembang,”ungkap Sugiyarto, sembari mengajak ke tempat mesin giling pakan ikan bantuan PT PHR yang berada bagian didepan pintu masuk kolam.

Proses pembuatan pakan ikan dengan mesin penggiling bantuan PT PHR

Disini, Sugiyarto menunjukan beberapa proses penggilingan untuk membuat pakan ikan. Memang benar, dengan bantuan mesin penggiling proses pembuatan pakan ikan berjalan sangat cepat dan menjadi mudah.”Sekarang kami sudah senang, apa yang selama ini menjadi kendala sudah teratasi, berkat adanya mesin penggilan pakan ikan tersebut,”ungkapnya.

Saat ini, katanya menambahkan untuk masa panen ikan lele dengan waktu  bisa 2 hingga 2,5 bulan, dengan bibit yang diperoleh dari Sungai Pagar yang dimasukan ke kolam berjumlah 20 ribu hingga 30 ribu ekor, dan ini terus berproses sejak pendirinya tahun 2000, diawali dengan usaha kecil- kecilan yakni hanya 5 enam kolam dan terus berkembang hingga saat ini.

“Jadi bantuan yang diberikan PT PHR itu, pertama sekali mereka turun ke kantor desa  dan menyampaikan apa yg dibutuhkan untuk usaha yang ada di Desa Gading Sari ini, dari situ kami menyampaikan yang paling dibuthkan adalah pengadaan pakan ikan, tak lama kemudian kami langsung menerima bantuan tersebut,”katanya.

Dari hasil kerja keras Kopdakan ini, mereka juga sudah menikmati hasil dari panen ikan lele. Dari setiap pendapatan, selain untuk kebutuhan operasional juga dibagi untuk anggota yang tergabung. Mereka yang bergabung di kelompok ini, memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang berbeda. Semua pekerjaan yang dilakukan dikerjakan dengan sepenuh hati dengan komitemen bersama.

Dari hasil yang dicapai  menjadi langkah awal yang perlu dikembangkan secara berkelanjutan oleh Pokdakan. Ia juga mengingatkan pentingnya melakukan penyortiran atau sortasi ikan secara berkala, sekitar dua hingga tiga minggu sekali.

Sortasi diperlukan untuk memisahkan ikan berdasarkan ukuran sehingga pertumbuhan lebih seragam sekaligus mengurangi risiko kanibalisme pada ikan lele. Selain itu, pengelolaan dan penggantian air kolam juga perlu dilakukan secara disiplin.

Sugiyarto menambahkan, air bekas penggantian kolam yang masih dapat dimanfaatkan juga berpotensi digunakan untuk menyiram tanaman, sehingga kegiatan budidaya ikan dapat dikembangkan secara lebih terpadu dan ramah lingkungan.

Seorang anggota Kopdakan Amir, sangat menyenangi dirinya bergabung di kelompok tersebut, lantaran dirinya bisa mendapat tambahan untuk kebetuhan rumah tangga.”Alhamdulillah, ada pendapatan tambahan setelah bergabung di Kopdakan ini,”ujarnya yang mengaku selain bekerja di Kopdakan tersebut, dirinya juga seorang pekerja pemanen sawit di daerah itu.

Dia mengaku, sebagai pekerja pemanen buah sawit tidak dilakukan setiap hari, sehingga begitu banyak waktu luang dirinya menghabiskan wakjtu Bersama anggota yang lain untuk bekerja di kolam lele tersebut, dan ini sudah berlangsung lama di tekuninya.

Kerjasama Dengan Dapur SPPG

Sugiyarto mengakui untuk menjual hasil panen ikan lele dipasaran dinilai kurang maksimal, lalu dia mencoba menerobos untuk kebutuhan menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Seperti gayung bersambut, usaha untuk mencoba menawarkan ke dapur SPPG langsung mendapat respon.

“Terus terang, kalau berharap menjual ke pasar dan masyarakat mungkin belum maksimal kalau kita mau terus berkembang, makanya kami coba ke dapur SPPG dan akhirnya disambut baik, dan kamipun langsung diterima untuk memasukan ikan lele di dapur tersebut,”imbuhnya.

Tambahnya lagi, untuk pengadaan dapur SPPG, maka Kopdan menargetkan dalam satu minggu harus bisa menyiapkan 1 ton. Dan kerjasama ini telah berlangsung dalam berapa tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, ada sebanyak 7 dapur yang ada namun yang tereakisasi  5 sampai 6 dapur SPPG khususunya yang berada di Tapung dengan jumlah sekolah mencapai 13 sekolah meliputi TK, SD, SMP, SMA dan Pesantren.

Ketua Yayasan Bhakti Rumah Pesuli Jateng Sebagai Mitra SPPG, Hardi Purwanto mengatakan, menyambut baik penawaran kerjasama yang diberikan pihak Kopdakan untuk pemasuk iklan lele sebagai menu MBG. Ini tentunya, pengadaan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.

“ Kerjaama dengan masyarakat melalui Kopdan ini sebuah peluang besar untuk perekomian masyarakat, dan kita sangat menyambt baik. Multi efeknya,  selain memberikan gizi ke anak-anak tentunya sebagai penggerak ekonomi rakyat yang sehat dan posisitf,”ujarnya.

Dirinya berharap, masyarakat yang selama ini sebagai petani sawit, tidak harus terfokus kepada sawit, namun lebih melek lagi atas peluang yang lain seperti MBG yang ada saat ini. Untuk membantu agar ekonomi anggota Kopdakan, maka pola kerjsamadalam  sistem pembayaran setelah barang sampai di SPPG.

“ Kita selalu memberikan kemudahan, terutama dalam pembayaran setiap barang yang masuk kita langsung membayarakan, jadi tidak ada istilah pakai dulu agar ini dapat membantu Kopdakan dalam menjalankan usahanya,”katanya.

Hardi memaparkan, untuk satu dapur SPPG itu menerima sebanyak 350 kg perhari, sehingga dalam sebulan 1 dapur itu bisa mencapai 2 ribu Kg sampai dengan 2,6 ribu Kg dan ini terus bergantian dari dapur satu kedapur yang lainnya. “Masuknya bergantian dan tidak bersamaan,”ungkapnya.

Pokdakan Mekar Mulia Desa Gading Sari merupakan sebuah Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) yang berlokasi di Desa Gading Sari. Sebagai sebuah kelompok usaha perikanan budidaya, organisasi ini menjadi wadah bagi para pembudidaya ikan lokal untuk saling bekerja sama dalam meningkatkan produktivitas, mengelola kolam, serta mengakses pelatihan

Secara umum, kegiatan dan fungsi dari kelompok perikanan seperti Pokdakan Mekar Mulia meliputi, manajemen budidaya kerja sama dalam pemilihan benih unggul, manajemen pemberian pakan, serta pengelolaan kualitas air kolam. Sedangkan untuk komoditas perikanan, biasanya berfokus pada budidaya ikan air tawar seperti lele.

Dengan bantuan yang diterima Kopdakan ini, tentunya ini sangat mempermudah anggota kelompok dalam mengakses program penyuluhan, bantuan sarana teknologi (seperti sistem bioflok), hingga akses permodalan dan pasar.

Kepala Desa Gading Sari, Muhamad Ihsan menyebutkan, memberikan apresiasi atas apa yang telah dilakukan masyarakat Gading Sari yang telah berinovasi dalam menggerakan perekonomian masyarakatnya, apalagi adanya bantuan yang diberikan PT PHR kepada Kopdakan ini tentunya ini menambah semangat anggota Kopdakan dalam menjalankan program ini.

“ Sebagai  pemerintah desa kami memandang program ini sangat baik, karena bisa membantu perekonomian masyarakat. Sinergi antara PHR, SPPG dan Kopdakan ini kami sangat dukung, yang mana nantinya kelompok ini bisa menjalankan dengan target dan hasil yang maksimal tentunya untuk kesejahteraan masyarakat,”ungkapnya.

Budidaya ikan air tawar ini menjadi sebuah usaha yang tepat untuk masyarakat di desa itu. Diakuinya, saat ini usaha budidaya ikan lele sudah bisa menjadi sebuah bentuk usaha yang banyak ditekuni masyarakat karena beberapa hal, misalkan karena proses yang dilakukan dalam budidaya ikan lele tidak serumit dan tidak selama seperti ikan-ikan lainnya.

Untuk potensi budidaya ikan lele yang bisa terus dikembangkan salah satunya adalah produk-produk yang berbahan dasar ikan lele. Budidaya ikan lele itu sendiri memiliki beberapa potensi yang bisa lebih dikembangkan lagi.

Tidak ada alasan mereka untuk tidak berkembang, dengan berbagai bentuk bantuan termasuk pendampingan yang diberikan PT PHR secara berkelanjutan, adalah sebuah motivasi untuk terus berkarya dengan semangat kebersamaan dengan sumber daya manusia yang ada.

Sejumlah hambatan dan tantangan yang selama ini kerap dirasakan, berangsur mulai teratasi dengan kemampuan dan keahlian yang ada.

Ia juga mendorong agar hasil panen dapat dikembangkan untuk pembesaran berikutnya sehingga usaha budidaya ikan dapat terus berputar dan memberikan manfaat ekonomi bagi anggota kelompok maupun masyarakat sekitar.

Dalam kesempatan tersebut, Kades  juga menyinggung pentingnya penguatan ekonomi masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan, termasuk perikanan, pertanian, peternakan dan akses pembiayaan yang lebih terjangkau.

Ia menyebut Pemerintah Desa terus mendorong program pemberdayaan masyarakat melalui berbagai program unggulan. Menurutnya, program-program tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus menyediakan alternatif usaha produktif bagi warga.

Apalagi saat ini, PT PHR tercatat memiliki hubungan kerja sama yang sangat aktif dengan pemerintah dan masyarakat Desa Gading Sari, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau melalui berbagai program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) salah satunya adalah program pemberdayaan untuk Kopdakan Mekar Muia.

Kepala Desa menyampaikan terima kasih kepada PT PHR  atas bantuan yang telah diberikan kepada Pokdakan Panindoan. Ia berharap bantuan dan pembinaan tersebut dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya anggota Kopdakkan di Desa Gading Sari.

Officer  Community Involvement Development (CID) Zona Rokan South, Lidia Sari yang juga sebagai Insisator Program menyebutkan, bahwa program perikanan yang diberikan kepada Pokdakan Mekar Mulia yang berada di Desa Gading Sari ini berlangsung pada tahun 2026.

Harapannya, melalui program ini dapat berisnergi hubungan yang baik antara PT PHR dengan wilayah operasional terutama masyarakat yang berada di Ring 1, karena PT PHR menilai daerah ini berpotensi untuk dikembangkan program bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.

“Bantuan selama ini yang diberikan sesuai dengan  yang paling dibutuhkan seperti mesin penggiling untuk  pakan ikan. Dan kami juga memberikan bibit iklan, dengan jumlah 30.000 ekor untuk dikembangkan dalam budidaya ikan oleh Kopdakan,”kata Lidia.

Program tidak sampai disini, namun berlanjutan untuk meningkatkan perekomian masyarakat dalam mengembangkan usaha. Sehingga Kopdakan Mekar Mulia Desa Gading Sari bisa menjadi percontohan, karena Mekar Mulia Gading Sari sudah dinilai baik dalam mengelola Kopdakan tersebut.

Tidak sampai disitu saja, namun kedepan program lainnya yang diberikan PT PHR  adalah memberikan pelatihan dan edukasi untuk pengadaan pembibitan.”Untuk program ini masuk dalam CID yakni program pemberdayaan masyarakat yang telah dianggarkan pada tahun 2027 mendatang,”ujarnya.

Berharap melalui program yang diberikan PT PHR dapat membantu dan memajukan usaha Kopdakan dalam pembudidayaan ikan air tawar. Karena bantuan ini, dapat memberikan motivasi mereka yang tergabung dalam kelompok tersebut.(***)