Ketika Jabatan Manager HSSE Menjadi Amanah, Menjamin Keselamatan Merawat Kehidupan Masa Depan

Manager HSSE Syahrial Okzani.(F:ist)

Jabatan adalah amanah dan beban tanggung jawab moral, bukan sekadar kehormatan, fasilitas, atau peluang untuk dilayani tapi merupakan bentuk kepercayaan. Bahkan sebaliknya, mengangkat atau mendudukkan seseorang yang tidak kompeten pada suatu jabatan tentu berpotensi berisiko besar.

Laporan : Bambang Hendriyanto, Dumai

Pria bernama lengkap Ir Syahrial Okzani, ST, MT, MPr, IPU, ASEAN Eng, tidak pernah menyangka kalau sekarang dirinya mendapatkan amanah dipercaya sebagai Manager  Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) PT Pertamina Patra Niaga (PPN) Refinery Unit (RU) Dumai.

Di balik setiap langkah dalam menjalankan aktivitas dirinya merasa ada keluarga, perjuangan, harapan, dan impian tentang kehidupan yang lebih baik. Karena itu, pemimpin yang mau mendengar akan lebih memahami apa yang benar-benar dirasakan sesama perwira dilingkungan PT PPN RU Dumai .

Lahir disebuah kampung bernama Gelumbang, sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan pada 18 Oktober 1976 lalu, Syahrial -sapaan akrabnya-selalu menerapkan motto hidupnya syukuri dengan apa yang sudah diberikan sang pencipta Allah SWT.

Maka dari inspektor dan praktisi keselamatan, kini dirinya berhasil memimpin HSSE di PT PPN RU Dumai.  Dia mengakui, perjalanan karir seorang manajer bukan lahir secara instan, melainkan ditempa dari proses panjang dari level paling bawah, adaptasi yang penuh tantangan, hingga perubahan pola pikir dari bisa bekerja sendiri dan dapat membuat orang lain bekerja dengan hebat.

Ada pekerjaan yang keberhasilannya justru diukur dari sesuatu yang tidak terjadi, yakni tidak ada kecelakaan kerja, tidak ada kebakaran, tidak ada kerusakan asset,  tidak ada pencemaran lingkungan, tidak ada gangguan keamanan dan tidak ada gangguan yang dinilai serius terhadap operasi kilang dan lingkungan sekitar.

Di situlah dunia kesehatan kerja  (Health), keamanan (Safety), keamanan (Security), dan lingkungan (Environment) menemukan maknanya. Ketika jabatan amanah itu menjadi tanggung jawab besar, disitulah pentingnya menjaga dan menjamin keselamatan untuk dilingkungan kerja dan orang lain disekitarnya agar kehidupan masa depan terawat.

Bagian HSSE bukan sekadar fungsi organisasi disebuah perusahaan BUMN, namun ini adalah sebuah perjalanan profesional yang dibangun selama lebih dari dua dekade melalui pengalaman, pendidikan, sertifikasi, penugasan, dan keterlibatan langsung dalam berbagai persoalan keselamatan di industri energi.

Saat  Syahrial  dipercaya sebagai Manager HSSE RU Dumai. Posisi tersebut merupakan salah satu tahapan panjang perjalanan kariernya di lingkungan Pertamina. Fungsi HSSE di kilang Pertamina adalah memastikan seluruh kegiatan operasional kilang berjalan dengan aman, andal, dan ramah lingkungan melalui penerapan standar K3LL yang ketat.

Mengenal industri kilang dan risiko operasionalnya, Kilang Pertamina Dumai berperan dalam pengolahan minyak dan penyedia energi nasional. Segala aktivitas pengolahan, menyimpan, pemeliharaan serta penanganan bahan hidrokarbon membutuhkan pengendalian resiko yang konsisten. Disitulah pentingnya peran HSSE dalam industri kilang, agar operasional kilanng dapat dihandalkan.

Ada beberapa karateristik   dan potensi risiko industri kilang seperti bahan mudah terbakar, proses bertekanan dan bertemperatur tinggi, pekerjaan risiko tinggi dan dampak lingkungan di wilayah kerja Pertamina Kilang Dumai.

“Untuk pengendalian risiko kita menggunakan sistem piramida terbalik, artinya semakin efektif semakin tinggi tingkat pengendaliannya, dengan tahapan eliminasi, substitusi, rekayasa teknologi, pengendalian administrasi dan APD (Alat Pelindung Diri),”kata Syahrial saat bincang-bincang dengan dumaipos-news.com.

Dipaparkanya, dalam indsutri kilang satu potensi bahaya yang tidak dikendalikan dapat berkembang menjadi insiden yang berdampak pada manusia, fasilitas, lingkungan dan keberlangsungan operasional.

Masih dalam perbincangan seputar budaya HSSE di RU Dumai, Syahrial yang mulai bergabung dengan Pertamina pada tahun 2008 yang saat itu masih Unit Pengolahan (UP) II Dumai dan kemudian menjalani berbagai posisi, mulai dari Asisten Kesisteman, System and Regulation PSM Supervisor, Safety Officer HSC, hingga Regulation and PSM Senior Supervisor.

Lalu perjalanan itu membawanya ke RU III Plaju, Kantor Pusat, RDMP RU III, Project Region Sumatera, hingga akhirnya kembali ke RU II Dumai sebagai Manager HSSE sejak Juli 2024 lalu.

Maka tidak heran dengan segudang pengalaman yang dimiliki, dirinya selalu mengedepankan standar kebijakan HSSE yang dikeluarkan oleh orang nomor satu di Pertamina Patra Patra Niaga Refenery Unit II Iwan Kurniawan sebagai General Manager.

Dalam mengambil tindakan atau proses evaluasi risiko yang dilakukan secara cepat sebelum, saat, setelah melaksanakan tugas atau aktivitas pekerjaan sehingga seluruh potensi bahaya dan risiko telah dipastikan kesiapan mitigasinya.

Melalui program BETUAH, diambil dari bahasa Melayu yang berarti beruntung-keuntungan-mendatangkan keuntungan, sehingga diharapkan dengan perilaku HSSE dapat memberikan keuntungan, keselamatan dan keberkahan bagi RU II Dumai.

“ BE nya berpikir resiko, selalu berpikir secara teliti dan lakukan pemeriksaan terhadap potensi bahaya dari aspek plant, process  dan people serta persyaratan HSSE yang harus dipenuhi. Sedangkan untuk TU, Tindakan dan Usaha. Setiap tindakan yang dilakukan harus mengutamakan keselamatan dan kewaspadaan. Sedangkan AH nya adalah Aman dan Hati-hati. Lakukan setiap pekerjaan secara aman dan hati – hati sesuai dengan mutu dan target guna mencapai zero accident dan hasil yang optimal,”ujarnya.

Untuk itu, HSSE adalah tanggungjawab bersama, karena keselamatan, kesehatan, keamanan dan kelestarian lingkungan bukan hanya tugas fungsi HSSE tetapi sudah menjadi tanggung jawab seluruh pihak dilingkungan kilang. Pekerja diberi wewenang mengambil langkah tegas dan peduli dalam hal kondisi terburuk.

“ Di RU II Dumai, kami menerapkan Stop Work Authoruty (SWA) yang artinya setiap pekerja berhak menghentikan pekerjaan yang dinilai berpotensi menimbulkan bahaya. Berani peduli dan bertindak aman adalah bagian dari budaya   HSSE kita bersama,”katanya.

Jabatan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru di balik jabatan itu terdapat tanggung jawab yang jauh lebih besar, yakni memastikan setiap orang yang bekerja di Pertamina Kilang Dumai dapat kembali kepada keluarganya dengan selamat dan sehat.

Untuk itu, penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) sebagai bidang yang terus bergerak diimplementasikan bukan sekedar tulisan, namun tetap menjadi perhatian prioritas. Industri minyak dan gas (Migas) memiliki tingkat risiko tinggi sehingga pendekatan keselamatan tidak boleh berhenti pada prosedur yang bersifat rutin.

“Kalau secara umum terkait dengan K3 itu improvement. Harus improvement terus. Tantangan di dunia industri migas itu high-grade, sehingga kita harus menyesuaikannya dengan proses bisnis pekerjaan kita,” katanya.

Karena itu, ia mendorong inovasi sebagai bagian dari budaya keselamatan. Salah satunya berkaitan dengan Daily Check Up (DCU) online, Vending Machine APD dan Bersama IT mengembangkan CCTV IA sebagai buddy sistem pengawasan.

Menurutnya, Vending Machine dapat memenuhi kebutuhan APD Consumable secara cepat sekaligus terpantau. Karena itu, inovasi diperlukan agar pekerja dapat memenuhi kebutuhan APD secara praktis dan sistem dapat segera merespons.

“Memang kami mendorong inovasi-inovasi berkelanjutan terkait dengan HSSE. Itu salah satu contohnya,” ujar pria low profil yang memiliki satu orang anak itu.

Pandangan tersebut lahir dari pengalaman panjang Syahrial dalam bidang HSSE. Jauh sebelum menjadi manager, ia telah mengikuti berbagai pelatihan dan sertifikasi, mulai dari Ahli K3 Umum, Pengawas Operasional, Fireman, Inspector Scaffolder, Inspector Pesawat Angkat Angkut, Petugas Proteksi Radiasi, Ahli K3 Kimia, Ahli K3 Migas, Insinyur Profesional Utama, Project Manager, PFSO, hingga Asean Engineer dari AFEO.

Syahrial, anak bungsu dari empat bersaudara itu juga mengembangkan kompetensi dalam Process Safety Management, Incident Investigation, Safety Leadership, Asset Integrity Management dan berbagai Sistem Manajemen Keselamatan.

Penyelenggaraan Aglity Test Firefighter diwilayah operasional Pertamina Kilang Dumai dan Sei Pakning.(F:ist)

Mindset tersebut juga lahir dari berbagai pengalaman kerja sebelum bergabung di Pertamina yaitu bidang akademik sebagai asisten dosen dan bekerja diberbagai  perusahaan  sebagai Inspektor di pengeboran Migas, bekerja di Perusahaan Enginering Procurement & Construction (EPC), Perusahaan Pertambangan Batubara dan selanjutnya berkarir di Pertamina RU II Dumai.

Latar belakang Syahrial sebenarnya adalah teknik. Ia menempuh pendidikan S1 Teknik Pertambangan di Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.

Kemudian, melanjutkan S2 Teknik Kimia dengan konsentrasi Teknologi Lingkungan dan menyelesaikan Program Profesi Insinyur di Universitas Hasanuddin, masing-masing dengan capaian akademik yang sangat baik IPK 4.00

Tetapi pengalaman membuatnya memahami bahwa keselamatan tidak cukup dibangun hanya melalui kemampuan teknis. “HSSE ini multi disiplin ilmu. Artinya alat, system dan manusianya. Saya melihatnya secara komprehensif,” tuturnya.

Makanya dia berharap, untuk generasi muda agar terus meningkatkan kemampuan dan kompetensi diri serta berani mencoba hal-hal baru yang positif termasuk dilingkungan kerja jangan tanya apa yang perusahaan berikan, tapi tanyalah apa yang sudah kita berikan yang terbaik untuk perusahaan.

Mesin dan proses, kata Syahrial, dapat dipahami melalui sistem kerjanya. Manusia berbeda. Ada aspek komunikasi, perilaku, budaya, kepemimpinan, hingga kesadaran yang harus dibangun.

“Kalau dengan mesin dan proses kita pelajari Refinery Process, Mechanical Integrity, Instrumen Control,  Process Safety dan Asset Integrity Management (PSAIM), Barrier Management, Major Accident Hazard (MAH), Fire & Emergency Response dan lain sebagainya.  Tapi kalau manusia, harus bisa kita merubah budaya dan mindset serta dikomunikasikan secara bertahap, bertingkat dan berkelanjutan,” ujarnya.

Inilah salah satu alasan mengapa dia memandang HSSE bukan semata-mata pekerjaan administratif. Ia adalah pekerjaan yang bersentuhan langsung dengan manusia dan proses bisnis suatu perusahaan. Dalam menjalankan tugas, ia pun mengakui bahwa rasa khawatir merupakan sesuatu yang manusiawi.

“Kalau kita selaku manusia, pasti merasa was-was. Saya nggak mau bilang bahwa saya tidak was-was. Enggak juga. Cuma kita harus me-manage rasa was-wasnya itu membiasakan diri dimana kita berada,” ujarnya.

Rasa was-was tersebut tidak boleh berubah menjadi ketakutan yang melumpuhkan. Sebaliknya, harus menjadi kewaspadaan yang melahirkan disiplin, pemeriksaan, komunikasi, dan pengendalian risiko.”Kita harus berdoa. Jangan lupa berdoa,” ucapnya.

Menurut Syahrial, ikhtiar melalui kompetensi dan sistem keselamatan perlu berjalan bersama dengan doa dan keyakinan kepada Tuhan.

Menariknya, perjalanan panjang Syahrial di Pertamina berawal dari sebuah cita-cita yang sederhana. “Saya dulu cita-citanya ingin bekerja di Pertamina aja,” ungkapnya. Ketertarikan itu muncul karena Pertamina dipandangnya sebagai perusahaan negara yang memiliki peran strategis dalam menyediakan energi bagi Indonesia.

Cita-cita tersebut akhirnya menjadi kenyataan. Pada Juli 2008, ia pun memulai perjalanan di UP II Dumai. Syahrial pernah terlibat dalam implementasi Contractor Safety Management System (CSMS), Sistem Manajemen Terintegrasi lingkungan (ISO Series) , Pre Start Up Review., Process Safety Management, Major Emergency Drill, Risk Register, HAZOPS, audit SUPREME, BCMS  hingga investigasi kecelakaan. Ia juga dipercaya dalam berbagai tim tingkat korporat dan lintas unit Pertamina.

Pengalaman tersebut membuat cakrawala HSSE-nya semakin luas. Keselamatan tidak lagi dilihat sebagai satu fungsi yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian integral dari keberlangsungan operasi.

Kematangan profesional Syahrial juga tercermin dari sejumlah penghargaan yang diterimanya. Di antaranya Quality and Active Award pada 2013, penghargaan optimalisasi kapasitas dan peningkatan gross margin di RU III pada 2016, dan SWAT Terbaik Level Section Head pada 2017. Assessor ISRS Korporat, penghargaan Pekerjaan Terbaik, dan penghargaan Relawan Pertamina Energi Negeri. Puncaknya antara lain The Best Health and Safety Leadership of Year 2024 dari ISEA.

Penghargaan itu menarik karena kepemimpinan keselamatan tidak hanya berbicara tentang kemampuan memahami regulasi. Ia berbicara mengenai kemampuan menggerakkan manusia untuk menjadikan keselamatan sebagai nilai bersama.

Syahrial juga terlibat aktif diberbagai Organisasi Profesi seperti World Safety Organization (WSO), Persatuan Insinyur Indonesia (PII) dan menjadi Narasumber berbagai Seminar yang diadakan oleh Universitas dan Lembaga Pelatihan.

Di tengah kesibukannya sebagai praktisi, Syahrial Okzani juga memilih berbagi pengetahuan melalui dunia akademik. Ia pernah menjadi asisten dosen di Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya. Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas akademiknya kembali berkembang.

Syahrial  menjadi Dosen Praktisi Politeknik Akamigas Palembang pada 2023, Dosen Praktisi Fakultas Teknik Universitas Riau pada 2026, dan Dosen Industri Program Profesi Insinyur Universitas Riau pada September 2026.

Ia juga aktif menjadi pembicara dan narasumber berbagai forum. Topiknya tidak hanya K3, tetapi juga process safety, manajemen risiko, ESG, dan keinsinyuran

Bagi Syahrial, berbagi ilmu adalah bentuk lain dari pengabdian. “Saya lebih senang bisa membagikan apa yang saya tahu, berbuat hal-hal yang baik, yang mungkin bisa menjadi manfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Dengan pengalaman praktis di industri dan aktivitas akademik, ia berada di posisi yang memungkinkan pengetahuan tidak berhenti di ruang kerja. Pengalaman lapangan dapat dibawa ke kampus, sementara gagasan akademik dapat dibawa kembali ke dunia industri.

Keluarga di Balik Perjalanan

Di balik perjalanan profesional tersebut terdapat keluarga yang menjadi bagian penting dari kehidupannya. Dalam wawancara, pria berdarah Palembang itu mengakui bahwa dukungan keluarga, khususnya istri, menjadi salah satu sumber kekuatan dalam menjalani karier. “Istri saya mengorbankan kariernya untuk mendampingi saya,” tuturnya.

Bagi seorang profesional yang bekerja di industri dengan tuntutan tinggi, keluarga bukan sekadar tempat pulang. Keluarga juga menjadi ruang untuk berbagi beban, mencari ketenangan, dan memperoleh perspektif ketika menghadapi persoalan pekerjaan.

Syahrial juga telah memikirkan kehidupan setelah masa pengabdiannya di Pertamina. Dunia pendidikan merupakan salah satu ruang yang ingin terus dijalani. Selain itu, ia memiliki ketertarikan pada bidang pertanian.

Ketertarikan itu tidak datang tiba-tiba. Ia berasal dari lingkungan pedesaan dan memiliki kedekatan dengan dunia pertanian. Ia bahkan telah menjalankan usaha yang berkaitan dengan pertanian dan membayangkan bidang tersebut sebagai salah satu aktivitas setelah purna tugas.

“Kalaupun purna tugas nanti akan menggeluti dunia pertanian,” katanya yang selalu mengisi waktu luang dengan bernyanyi. Ada sesuatu yang menarik dari pilihan tersebut. Setelah bertahuntahun berkutat dengan pengeboran, EPC, pertambangan, kilang, proses, sistem keselamatan, risiko dan teknologi, ia justru membayangkan masa depan yang lebih dekat dengan tanah dan kehidupan.

Pada akhirnya, Syahrial tidak menempatkan karier sebagai perlombaan mengejar jabatan.“Menjalani karier itu ya kita jalani saja. Kita lakukan apa yang bisa kita lakukan yang terbaik,” ujarnya.

Ia percaya bahwa manusia harus berusaha, tetapi hasil akhir tetap berada dalam ketentuan Allah SWT.”Lebih bagus kita jalani saja seperti air mengalir. Bukan berarti kita berjalan apa adanya, tidak juga,” kata pria yang dikenal ceria dan murah tersenyum ini.

Kalimat itu seperti merangkum perjalanan panjangnya. Dari Gelumbang menuju Palembang, Dari dunia akademik menuju industri.

Dari pertambangan dan proyek energi menuju Pertamina. Dari Dumai ke Plaju, kemudian ke Kantor Pusat, Project Region, dan kembali ke Dumai. Dari praktisi menjadi pemimpin HSSE sekaligus pengajar. Semua perjalanan itu akhirnya bermuara pada satu prinsip sederhana yakni bekerja sebaik mungkin dan memberi manfaat sebanyak mungkin.

“Kalau terkait dengan dunia, mungkin kalau saya jalani apa adanya saja, yang terbaik, bisa bermanfaat bagi orang, itu saya sudah senang. Bisa membantu orang, saya sudah senang.” jelasnya.

Bagi Syahrial, menjaga keselamatan bukan hanya tentang memastikan sebuah pekerjaan selesai tanpa insiden. Lebih dari itu, keselamatan adalah cara menjaga manusia—agar setiap orang yang berangkat bekerja dapat kembali pulang, bertemu keluarga, dan melanjutkan kehidupannya.

Di situlah makna terdalam dari seorang penjaga keselamatan: bekerja dalam senyap, tetapi memastikan kehidupan terus berjalan. Manusia dan lingkunganm dua objek  yang tidak bisa dipisahkan, agar kehidupan dibumi terus berkelanjutan.

Kompetensi Melibatkan Masyarakat

PT Kilang Pertamina Patra Niaga Refinery Unit (RU) II Dumai melaluI Health, Safety, Security and Environment (HSSE) kembali menunjukkan komitmennya terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

General Manager PT KPI RU II Dumai, Iwan Kurniawan yang diwakilkan Manager HSSE RU II Dumai, Syahrial Okzani mengatakan, perusahaan secara resmi membuka kegiatan Sosialisasi dan Pelatihan Upskilling Basic Safety BK3N Tahun 2026, Selasa (03/02/2026) lalu.

Kegiatan yang digelar di Balai Pertemuan Sasana Mitra (BPSM) Bukit Datuk, Kota Dumai ini merupakan program peningkatan kompetensi dasar keselamatan kerja bagi tenaga kerja dan masyarakat di sekitar wilayah operasional RU II Dumai.

Syahrial Okzani menegaskan bahwa penerapan K3 merupakan prioritas utama yang tidak dapat ditawar dalam setiap aktivitas operasional perusahaan. Ia menekankan bahwa keselamatan harus menjadi budaya yang melekat pada setiap individu, bukan sekadar kewajiban administratif.

“Keselamatan bukan hanya kewajiban, tetapi kebutuhan dan budaya yang harus tertanam dalam setiap individu,” tegas Syahrial.

Pertamina RU Dumai implementasikan stop work authority.(F:ist)

Melalui program upskilling Basic Safety BK3N ini, peserta diharapkan mampu memahami dan menerapkan prinsip-prinsip keselamatan kerja secara konsisten, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi risiko di lingkungan kerja.

Materi sosialisasi dan pelatihan meliputi pengenalan dasar K3, identifikasi potensi bahaya, pengendalian risiko, serta penerapan prosedur keselamatan kerja sesuai standar dan regulasi yang berlaku. Kegiatan ini juga bertujuan untuk menyamakan persepsi antara perusahaan, tenaga kerja, dan masyarakat mengenai pentingnya budaya keselamatan kerja.

Kegiatan tersebut melibatkan masyarakat di sekitar wilayah operasional kilang, khususnya warga Kelurahan Tanjung Palas, Kelurahan Jaya Mukti, Kelurahan Teluk Binjai, dan Kelurahan Buluh Kasap, serta pemangku kepentingan terkait lainnya.

Pelibatan masyarakat ini diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan kerja yang aman, sehat, dan berkelanjutan.

Salah seorang peserta, Ridho, warga Kelurahan Jaya Mukti, mengaku antusias mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, sosialisasi dan pelatihan ini memberikan tambahan pengetahuan serta pengalaman baru terkait keselamatan kerja.

“Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat dan semoga terus melibatkan masyarakat, sehingga kami bisa menambah ilmu dan wawasan,” ujarnya. Hal senada disampaikan Via, warga Kelurahan Tanjung Palas. Ia menilai pelatihan Basic Safety BK3N dapat menjadi bekal penting bagi masyarakat yang ingin memasuki dunia kerja.

“Ini bisa menjadi persiapan untuk melamar pekerjaan. Semoga ilmu yang didapat bermanfaat. Terima kasih kepada manajemen RU Dumai,” ucapnya. Dalam pelaksanaannya, sosialisasi dan pelatihan menghadirkan narasumber dari Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Provinsi yang memaparkan regulasi ketenagakerjaan, praktik keselamatan kerja, serta peran aktif masyarakat dalam mendukung penerapan budaya K3.

Melalui kegiatan ini, RU Dumai kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pencapaian target zero accident serta memperkuat budaya HSSE sebagai bagian integral dari operasional perusahaan.

Sebagai informasi, Kilang RU Dumai merupakan salah satu Objek Vital Nasional (Obvitnas) yang memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional. Kilang ini berkontribusi signifikan dalam pemenuhan kebutuhan BBM dan produk turunan minyak untuk sektor industri, transportasi, dan masyarakat luas.

Sebagai Obvitnas, RU Dumai dilindungi oleh sistem pengamanan terpadu dengan dukungan aparat negara sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Selain itu, kilang juga menerapkan standar keselamatan, keamanan, dan keandalan operasional yang tinggi sejalan dengan prinsip Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) guna menjamin keberlangsungan operasional dan perlindungan kepentingan nasional.

Mengedepankan Kordinasi

Sementara itu, Lurah Tanjung Palas Herfina Herman menyebutkan, banyaknya kepedulian Pertamina RU Dumai terhadap warganya, mulai dari memperhatikan lingkungan dan keselamatan warga sebagai diwilayah ring 1 kilang, juga selalu melakukan kordinasi yang baik setiap yang berkaitan dengan operasional kilang.

“Kordinasi yang baik, sehingga masyarakat Tanjung Palas yang berdekatan langsung dengan kilang bisa merasa nyaman dan aman. Perhatian khusus yang diberikan itu sangat penting, terutama dalam menjaga hubungan baik antara persahaan dengan masyarakat sekitar,”ungkap Herfina.

Atas berbagai perlakuan khusus yang diberikan kepada masyarakat Tanjung Palas dapat terus ditingkatkan. Baginya merawat kebaikan bersama perusahaan dan masyarakat, adalah kunci agar semua bisa berjalan dengan semestinya.

Lurah dukung setiap perhatian dari perusahaan, ini mencerminkan sikap terbuka dan kooperatif dari pihak pemerintah kelurahan terhadap program tanggung jawab sosial perusahaan  maupun bentuk bantuan kemitraan lainnya.

Dukungan ini bukti nyata menyinergikan program perusahaan dengan kebutuhan riil ditengah masyarakat. Kolaborasi ini umumnya memberikan dampak positif baik peruahaan maupun masyarakat.

Manager HSSE Pertamina RU Dumai  didampingi Camat Dumai Timur, Lurah, Ketua LPMK dan Ketua RT dalam suatu acara bersama masyarakat Tanjung Palas beberapa waktu lalu.(F:bambang)

Sementara itu di tempat terpisah, Ketua LPMK Tanjung Palas Bambang Rio menilai, sosok Syahrial Okzani yang telah mampu menjalankan fungsinya baik dilingkungan internal kilang dan juga external warga di lingkungan kilang.

“ Kami melihat gerak cepat Manager HSSE ini setiap ada masalah kilang yang berkaitan dengan HSSE ya. Kalau ada masalah kilang beliau langsung turun menemui masyarakat  dengan tenang dan lebih banyak mendengarkan,”ungkapnya.

Bukan hanya itu, sebagai tetangga yang baik, dirinya juga begitu cepat merangkul masyarakat dengan melakukan berbagai kegiatan seperti jumat berbagi dengan mengunjungi mesjid-mesjid setiap minggu , gotong royong dipinggiran kilang dan coffe morning bersama tokoh dan masyarakat, berbuka puasa dan berbagi takjil.

”Sosok seperti ini sangat penting untuk masyartakat, tujuanya jelas agar semua bisa berjalan bersama, Disaat kilang Dumai menjalankan fungsinya sebagai ketahanan energi nasional, disitu ada dukungan masyarakat yang tinggal di sekitarnya,”ujar Bambang.

Untuk itu, LPMK bertindak sebagai mitra strategis pemerintah dan jembatan aspirasi warga, menyambut baik perusahaan yang membantu masyarakat, hal ini mencerminkan sinergi positif dalam mengoptimalkan kontribusi sosial  termasuK didalamnya bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) demi kemajuan wilayah setempat.

Mewakili masyarakat Tanjung Palas, Bambang berharap hubungan yang sudah baik dari semua perwira Kilang Dumai terus dijaga. Antara kilang Dumai dan masyarakat ring 1 tidak bisa dipisahkan, disaat masayarakat sebagai tetangga sudah nyaman, disitu letak keberhasilan perusahaan dan masyarakat berjalan bergandeng tangan.

Bambang memandang jabatan boleh membawa seseorang ke tempat yang tinggi, tetapi nilai seorang pemimpin justru terlihat dari caranya tetap rendah hati. Menghargai setiap suara adalah bagian dari makna pengabdian. Kerendahan hati bukan berarti kehilangan wibawa. Justru dari kerendahan hati lahir empati, kepedulian, dan kemauan untuk melayani dengan tulus.

Sebab pada akhirnya, jabatan hanyalah amanah sementara, tetapi kebaikan yang diberikan kepada sesama dapat tinggal jauh lebih lama di hati mereka yang merasakan baik lingkungan kerja maupun masyarakat sebagai mitra.(***)

Editor : Rio